55 NEWS – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga menunjukkan respons cepat dan adaptif dalam menormalisasi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Aceh, khususnya di wilayah Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah yang terdampak bencana. Meskipun infrastruktur jalan banyak yang terputus akibat longsor dan jembatan ambruk, distribusi BBM dipastikan tetap aman dan menjangkau masyarakat hingga ke pelosok.

Related Post
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menegaskan komitmen lembaganya untuk menjaga stabilitas pasokan energi di tengah krisis. "Meskipun akses jalan masih terbatas, seperti di Bener Meriah yang banyak putus, distribusi BBM tetap kami pastikan menjangkau masyarakat, bahkan hingga ke Desa Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo," ungkap Wahyudi pada Senin lalu, seperti dilansir 55tv.co.id. Ia menambahkan bahwa secara umum, 97% Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah terdampak telah kembali beroperasi, menandakan pemulihan yang signifikan.

Dalam upaya mitigasi dampak ekonomi dan sosial pascabencana, Provinsi Aceh diberikan kelonggaran khusus. Pembelian BBM bersubsidi kini dapat dilakukan secara manual, tanpa perlu menggunakan barcode. Kebijakan ini, menurut Wahyudi, bertujuan vital untuk mencegah panic buying yang dapat memperparah situasi, sekaligus mempermudah masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk untuk mengoperasikan genset sebagai penerangan sementara. Hasil monitoring BPH Migas menunjukkan bahwa keringanan pembelian Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) dan Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) ini berjalan efektif dan sesuai dengan kebutuhan mendesak masyarakat yang tengah berjuang memulihkan diri.
Tantangan logistik di Bener Meriah dan Aceh Tengah memang tidak mudah. Perbaikan akses jalan yang masih berlangsung membuat armada mobil tangki berkapasitas besar sulit melintas. Untuk itu, tim di lapangan menerapkan strategi distribusi yang inovatif. Mobil tangki yang dapat melewati jalan rusak hanya berkapasitas sekitar 8 kiloliter (KL). Selanjutnya, BBM diangkut menggunakan jerigen atau drum yang telah disiapkan Pertamina Patra Niaga, kemudian didistribusikan ke desa-desa terisolasi menggunakan kendaraan double cabin 4×4 yang lebih tangguh dan mampu menembus medan sulit.
Wahyudi melanjutkan, suplai BBM utama berasal dari Integrated Terminal Lhokseumawe. Untuk mempercepat distribusi ke wilayah pegunungan dan perbukitan dengan akses jalan yang sulit, Pertamina menyiapkan hub suplai atau fuel terminal bayangan di Blang Rakal, Kabupaten Bener Meriah. "Kami telah meninjau langsung lokasi hub suplai di Blang Rakal. BBM dari Lhokseumawe diangkut truk tangki 16 KL, kemudian dipindahkan ke truk lebih kecil 8 KL, dan selanjutnya secara estafet disalurkan menggunakan jerigen atau drum. Ini adalah bukti nyata kehadiran negara dalam memastikan roda ekonomi dan kehidupan masyarakat tetap berjalan di daerah bencana," tegas Wahyudi.
Dengan strategi distribusi yang adaptif dan inovatif ini, BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga berhasil memastikan kondisi pasokan BBM di Aceh secara umum dinyatakan aman, mendukung percepatan pemulihan ekonomi dan kehidupan masyarakat pascabencana.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar