Dari Tanah Merah Kalimantan, RI Siap Raup Puluhan Triliun Rupiah! Proyek Hilirisasi Bauksit Guncang Peta Ekonomi Global, Mampukah Indonesia Jadi Raja Aluminium Dunia?

Dari Tanah Merah Kalimantan, RI Siap Raup Puluhan Triliun Rupiah! Proyek Hilirisasi Bauksit Guncang Peta Ekonomi Global, Mampukah Indonesia Jadi Raja Aluminium Dunia?

55 NEWS – Jauh di kedalaman bumi Kalimantan Barat, tersembunyi kekayaan mineral yang selama beberapa dekade hanya dipandang sebagai komoditas ekspor mentah. Bauksit, mineral berwarna merah yang sebelumnya dikirim ke luar negeri tanpa banyak menghasilkan nilai tambah signifikan, kini menjadi poros utama dalam babak baru industrialisasi Indonesia. Melalui inisiatif hilirisasi terpadu yang berpusat di Mempawah, konsorsium industri pertambangan nasional, MIND ID, bersama dengan entitas utamanya seperti PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), sedang merombak paradigma lama. Mereka bertransformasi dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi produsen strategis logam bernilai tinggi.

COLLABMEDIANET

Di jantung kawasan ini, sebuah rantai nilai ekonomi baru sedang dibangun. Bauksit, yang merupakan bahan baku utama, akan diolah menjadi alumina, kemudian dimurnikan lebih lanjut menjadi aluminium. Logam ini dikenal sebagai tulang punggung bagi berbagai industri modern dan masa depan. Proyek ini bukan hanya sekadar pembangunan fasilitas industri; ini adalah manifestasi konkret dari upaya penguatan kedaulatan ekonomi bangsa.

Dari Tanah Merah Kalimantan, RI Siap Raup Puluhan Triliun Rupiah! Proyek Hilirisasi Bauksit Guncang Peta Ekonomi Global, Mampukah Indonesia Jadi Raja Aluminium Dunia?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Mengubah Potensi Alam Menjadi Daya Ungkit Ekonomi Berlipat Ganda

Potensi ekonomi bauksit mentah, yang hanya bernilai sekitar USD40 per metrik ton, akan mengalami lonjakan nilai yang fantastis melalui proses hilirisasi. Setelah diolah menjadi alumina, harganya dapat melambung hingga sekitar USD400 per metrik ton, meningkat sepuluh kali lipat. Puncaknya, ketika mencapai tahap akhir sebagai aluminium murni, nilainya diperkirakan melonjak drastis hingga USD3.000 per metrik ton.

Secara keseluruhan, melalui satu siklus proses hilirisasi ini, Indonesia berpotensi menciptakan nilai tambah hingga 70 kali lipat dari harga komoditas awalnya. Peningkatan nilai yang substansial ini bukan sekadar angka di atas kertas; ini adalah representasi nyata dari pergeseran fundamental. Indonesia kini tidak lagi hanya menjual potensi kekayaan alamnya, melainkan telah menjual kekuatan dan kapasitas industrinya yang semakin matang.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan bahwa strategi hilirisasi adalah pilar utama untuk mencapai kemandirian ekonomi nasional yang kokoh. "Proyek ini merupakan kontribusi nyata dari Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah signifikan di dalam negeri, memperkuat fondasi ekonomi bangsa, serta mengukuhkan kedaulatan negara di sektor mineral demi masa depan Indonesia yang lebih cerah," ungkap Maroef dalam acara peletakan batu pertama enam proyek hilirisasi fase I pada Jumat, 6 Februari 2026.

Senada, CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menyoroti pentingnya pengembangan ekosistem terintegrasi ini. Menurutnya, hal ini akan mengubah status sumber daya mineral dari sekadar komoditas ekspor mentah menjadi bahan baku strategis yang esensial untuk mendukung transformasi industri nasional. "Melalui fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium ini, kami berupaya mewujudkan transformasi industri yang tidak hanya mampu mendorong penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga secara signifikan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional," jelas Rosan.

Dari Ketergantungan Impor Menuju Kemandirian Industri Penuh

Ironisnya, selama bertahun-tahun, Indonesia, yang diberkahi dengan cadangan bauksit melimpah, justru masih harus bergantung pada impor aluminium untuk memenuhi kebutuhan industri domestiknya. Ketergantungan ini menciptakan paradoks yang menghambat potensi ekonomi negara.

Namun, era ketergantungan itu kini perlahan berakhir. Dengan pembangunan smelter aluminium berkapasitas masif 600.000 metrik ton per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dengan kapasitas 1 juta metrik ton per tahun, paradoks tersebut mulai terurai.

Ketika seluruh fasilitas ini beroperasi penuh, proyeksi menunjukkan bahwa cadangan devisa nasional akan mengalami lonjakan signifikan, dari sekitar Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Ini adalah peningkatan luar biasa sebesar 394 persen. Lebih dari sekadar statistik finansial, angka ini merepresentasikan langkah konkret dan berani Indonesia menuju kedaulatan industri yang seutuhnya, menempatkan bangsa ini di garis depan peta industri aluminium global.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar