55tv.co.id – Waspada bahaya inflasi pangan yang merajalela. Jika tak terkendali ancaman nyata mengintai dompet masyarakat. Pendapatan bisa tergerus drastis hingga 70 persen. Ini bukan sekadar angka namun alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi rumah tangga yang harus segera ditangani.

Related Post
Ekonom Bank Danamon Indonesia Hosianna Evalita Situmorang menyoroti fenomena ini. Normalnya alokasi belanja makanan sekitar 35 persen dari penghasilan. Namun lonjakan harga bahan pokok bisa memaksa keluarga mengalokasikan 50 bahkan hingga 70 persen. Bayangkan betapa menipisnya sisa pendapatan untuk kebutuhan lain seperti pendidikan kesehatan atau hiburan.

Pemerintah memang punya kendali atas harga BBM listrik dan transportasi karena masuk kategori harga yang diatur. Namun inflasi inti yang dipicu harga pangan punya dinamika berbeda. Ia bergerak berdasarkan penawaran permintaan suku bunga dan nilai tukar mata uang. Bank Indonesia sendiri menargetkan inflasi di angka 25 persen plus minus 1 persen. Angka ini jauh di atas ideal jika inflasi pangan terus meroket.
Cerminan buruknya sudah terlihat. Kenaikan harga BBM 2022 lalu memicu suku bunga melonjak. Dampaknya rasio kredit macet atau NPL ikut naik. Ketika harga beras saja melambung tinggi kemampuan masyarakat membayar cicilan motor atau pinjaman lain langsung anjlok. Ini lingkaran setan yang mengancam daya beli dan stabilitas keuangan pribadi.
Jika inflasi terus memanas suku bunga ikut naik membuat kredit makin mahal dan risiko gagal bayar meningkat. Daya beli masyarakat yang tergerus otomatis memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Dari sisi korporasi biaya produksi membengkak karena harga bahan baku mahal. Ujungnya perusahaan bisa mengurangi produksi bahkan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja PHK. Sebuah skenario ekonomi yang harus dihindari demi kesejahteraan bersama.








Tinggalkan komentar