Dunia Bergolak Hebat, Timur Tengah Memanas! Mengapa Ekonomi Indonesia Justru ‘Kebal’ Krisis? Menko Airlangga Ungkap Data Mengejutkan yang Bikin Optimis!

Dunia Bergolak Hebat, Timur Tengah Memanas! Mengapa Ekonomi Indonesia Justru 'Kebal' Krisis? Menko Airlangga Ungkap Data Mengejutkan yang Bikin Optimis!

55 NEWS – Di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh dan solid. Meskipun konflik di Timur Tengah telah berlangsung lebih dari dua minggu, pemerintah melalui 55tv.co.id terus memantau dampak potensialnya terhadap stabilitas ekonomi nasional, sembari memastikan koordinasi kebijakan yang kuat dan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama.

COLLABMEDIANET

Berbicara dalam acara Diskusi dan Buka Puasa Bersama Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi Makro (Forkem) di Jakarta pada Senin (16/3/2026), Airlangga menjelaskan bahwa dampak transmisi dari konflik global tersebut ke Indonesia umumnya terlihat pada fluktuasi harga minyak, gas, dan kemudian merembet ke harga komoditas lainnya. "Walaupun dalam situasi krisis perang, secara makro kita tetap kuat dan solid," tegasnya, menyoroti ketahanan fundamental ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Dunia Bergolak Hebat, Timur Tengah Memanas! Mengapa Ekonomi Indonesia Justru 'Kebal' Krisis? Menko Airlangga Ungkap Data Mengejutkan yang Bikin Optimis!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Optimisme pemerintah ini bukan tanpa dasar. Airlangga memaparkan sejumlah indikator makroekonomi yang menjadi pilar kekuatan Indonesia. Kontribusi konsumsi domestik, misalnya, mencapai 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), didukung oleh Mandiri Spending Index yang berada di level 360,7 pada Februari 2026, menandakan daya beli masyarakat yang terjaga. Selain itu, cadangan devisa negara tercatat sebesar USD151,9 miliar, angka yang cukup untuk membiayai sekitar enam bulan impor, menunjukkan ketahanan eksternal yang solid.

Sektor manufaktur juga menunjukkan vitalitasnya, dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang konsisten berada di zona ekspansif pada level 53,8. Dari sisi ketahanan pangan, produksi beras nasional mengalami kenaikan signifikan sebesar 13,54 persen secara tahunan (yoy). Lebih lanjut, Indonesia diuntungkan oleh mekanisme lindung nilai alami (natural hedging), di mana kenaikan harga komoditas ekspor unggulan seperti batu bara, nikel, dan tembaga, yang nilainya mencapai USD47 miliar, secara efektif mampu menyeimbangkan potensi defisit di sektor migas akibat kenaikan harga energi global.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar