55 NEWS – Jakarta – Prediksi mengejutkan datang dari kalangan ekonom dan perbankan terkait arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Suku bunga acuan BI, atau BI Rate, diperkirakan akan terus menanjak, bahkan berpotensi menyentuh angka 6,0 persen pada akhir tahun 2026. Analis memproyeksikan kenaikan bertahap, dimulai dari 5,75 persen pada kuartal II, sebelum kemudian stabil di level 6,0 persen untuk kuartal III dan IV tahun tersebut.

Related Post
Djoko Soelistyo, Head of Investment & Insurance Product Bank DBS Indonesia, menjelaskan bahwa langkah antisipatif ini tak lepas dari prioritas pemerintah dan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Tekanan penguatan dolar AS yang berkelanjutan menjadi pemicu utama. Selain itu, kebijakan ini juga sejalan dengan tren global, di mana bank sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan melanjutkan kebijakan pengetatan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan.

Namun, Djoko juga memberikan peringatan keras. Ia menyoroti potensi risiko yang timbul jika suku bunga acuan ditetapkan terlalu tinggi. "Penetapan suku bunga yang terlalu agresif berpotensi besar menekan daya beli masyarakat," ujarnya pada Senin (22/6/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id. Kondisi ini, lanjutnya, juga akan menjadi tantangan serius bagi sektor perbankan ritel.
Kenaikan BI Rate secara otomatis akan memicu lonjakan suku bunga pinjaman di perbankan. "Dampaknya bunga pinjaman otomatis akan terbawa naik, yang dampaknya akan membawa risiko ke bank-bank juga secara umum," jelas Djoko.
Oleh karena itu, Djoko berharap Bank Indonesia senantiasa melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan suku bunga acuannya. Ia menekankan, jika daya beli riil masyarakat tergerus, maka laju perekonomian nasional secara agregat akan turut merasakan dampak negatif yang signifikan.
Menyikapi proyeksi ini, Melfrida Gultom, Consumer Banking Director DBS Indonesia, menegaskan komitmen lembaganya untuk memperketat prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Langkah ini diambil sebagai respons antisipatif terhadap potensi risiko yang mungkin timbul akibat tren kenaikan BI Rate.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar