55 NEWS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas menyentil fenomena skeptisisme nasionalisme di kalangan tertentu, khususnya menyoroti seorang alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang secara terbuka menyatakan preferensinya agar anak-anaknya tidak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Pernyataan kontroversial "cukup saya yang WNI, anak-anakku jangan" yang dilontarkan oleh individu berinisial DS ini, sontak memantik kritik tajam dan perdebatan luas di ruang publik.

Related Post
Dalam pandangan Purbaya, keraguan terhadap prospek masa depan Indonesia merupakan sebuah kekeliruan fundamental. Ia meyakini bahwa dalam kurun waktu dua dekade ke depan, posisi Indonesia di kancah global akan bertransformasi menjadi kekuatan yang jauh lebih dominan dan disegani. "Mungkin 20 tahun lagi dia akan menyesal, karena 20 tahun lagi kita akan bagus banget," tegas Purbaya dalam sesi konferensi pers APBN KITA, Senin (23/2/2026). Pernyataan ini disampaikannya di tengah pemaparan mengenai dinamika ekonomi global, menggarisbawahi optimisme pemerintah terhadap daya saing dan resiliensi ekonomi nasional, seperti dilansir 55tv.co.id.

Sentilan dari Purbaya ini merupakan respons langsung terhadap viralnya sebuah unggahan video oleh Dwi Sasetyaningtyas (DS), seorang alumni LPDP. Dalam video tersebut, DS dengan bangga memamerkan dokumen resmi dari Home Office Britania Raya yang mengonfirmasi status kewarganegaraan Inggris bagi putra keduanya. Aksi ini memicu gelombang reaksi, mempertanyakan komitmen nasionalisme dari penerima beasiswa negara yang seharusnya menjadi duta bangsa.
Purbaya lebih lanjut menjelaskan bahwa optimisme terhadap masa depan Indonesia bukan tanpa dasar. Proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional didukung oleh fundamental yang kuat, bonus demografi yang optimal, serta berbagai kebijakan strategis pemerintah dalam hilirisasi industri dan peningkatan investasi. "Kita punya potensi besar. Jangan sampai kita kehilangan kepercayaan diri di saat negara lain justru mulai melirik potensi kita," imbuhnya, mengindikasikan bahwa pandangan pesimistis justru bisa menghambat laju kemajuan ekonomi bangsa dan mengurangi daya tarik investasi.
Diskusi mengenai pilihan kewarganegaraan, terutama dari individu yang telah menerima fasilitas pendidikan dari negara, menjadi relevan dalam konteks pembangunan sumber daya manusia dan identitas nasional. Purbaya menekankan bahwa investasi pada SDM melalui LPDP adalah untuk membangun kapasitas bangsa, bukan untuk mendorong eksodus talenta atau menumbuhkan keraguan terhadap masa depan Tanah Air.
Dengan visi jangka panjang, Purbaya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para intelektual dan penerima beasiswa, untuk terus menumbuhkan keyakinan pada potensi Indonesia. Masa depan cerah yang diproyeksikan oleh pemerintah diharapkan menjadi motivasi bagi setiap warga negara untuk berkontribusi aktif dalam memajukan bangsa, bukan justru menjauhkan diri dari identitas kebangsaan yang telah memfasilitasi pendidikan mereka.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar