GEGER! Harga Pertamax Tembus Rp16.250, Driver Ojol Menjerit: ‘Pendapatan Saya Tak Cukup!’ Ancaman Krisis Ekonomi Mikro di Depan Mata?

GEGER! Harga Pertamax Tembus Rp16.250, Driver Ojol Menjerit: 'Pendapatan Saya Tak Cukup!' Ancaman Krisis Ekonomi Mikro di Depan Mata?

55 NEWS – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter baru-baru ini telah memicu gelombang keluhan dari para pengemudi ojek online (ojol) di berbagai wilayah, khususnya Jakarta. Penyesuaian harga yang dinilai sangat signifikan ini berpotensi menggerus margin keuntungan mereka dan menambah beban operasional harian yang sudah berat. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan pendapatan di sektor ekonomi mikro tersebut.

COLLABMEDIANET

Eko, seorang pengemudi ojol yang biasa beroperasi di kawasan Petamburan, Jakarta Barat, menyuarakan kekecewaannya saat ditemui di sebuah SPBU di Slipi, Jakarta Barat, Rabu lalu. Ia mengungkapkan bahwa kenaikan kali ini terasa jauh lebih memberatkan dibandingkan penyesuaian harga sebelumnya. "Waduh, ini kenaikannya terasa sangat drastis. Biasanya kan paling cuma seribu rupiah, sekarang melonjak lebih dari tiga ribu rupiah. Jelas tidak cukup untuk menutupi biaya operasional sehari-hari," keluh Eko dengan nada prihatin.

GEGER! Harga Pertamax Tembus Rp16.250, Driver Ojol Menjerit: 'Pendapatan Saya Tak Cukup!' Ancaman Krisis Ekonomi Mikro di Depan Mata?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Selama ini, Eko rutin menggunakan Pertamax untuk kendaraannya demi menjaga performa mesin. Namun, dengan harga yang kini menembus Rp16.250 per liter, ia terpaksa mengambil keputusan sulit untuk beralih menggunakan Pertalite. Langkah ini diambil semata-mata untuk menekan biaya pengeluaran harian yang kian membengkak. "Motor saya biasa pakai Pertamax, tapi sekarang terpaksa ganti Pertalite. Harapan saya, harga bisa kembali normal seperti sebelumnya. Kenaikan ini terlalu tinggi, pendapatan saya jadi tidak cukup," imbuhnya, menyoroti dilema yang dihadapi banyak rekan seprofesinya.

Fenomena ini bukan hanya dialami Eko. Banyak pengemudi ojol lain juga merasakan tekanan serupa. Kenaikan harga Pertamax secara langsung memangkas pendapatan bersih mereka, mengingat tarif layanan ojol yang relatif stagnan. Untuk menutupi biaya bahan bakar, sebagian driver terpaksa menambah jam kerja atau mengurangi jatah istirahat, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Pemandangan antrean panjang di SPBU untuk pembelian Pertalite kini menjadi pemandangan umum di berbagai sudut kota, mencerminkan strategi adaptasi massal para pengendara, termasuk driver ojol, dalam menghadapi lonjakan harga BBM nonsubsidi. Analis ekonomi 55tv.co.id memprediksi, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya penyesuaian tarif atau insentif dari platform penyedia layanan, daya beli pengemudi ojol akan semakin tertekan. Dampak berantai ini berpotensi merembet ke sektor lain, menciptakan tekanan inflasi pada harga barang dan jasa yang bergantung pada distribusi logistik.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat mencari solusi komprehensif untuk meringankan beban para pekerja di sektor transportasi daring. Kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan ekonomi mikro menjadi krusial untuk menjaga stabilitas pendapatan dan daya beli masyarakat di tengah gejolak harga komoditas global. Pertanyaan besar kini menggantung: sejauh mana driver ojol mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang kian mencekik?

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar