55 NEWS – Jakarta digemparkan dengan pertemuan mendadak di Istana Kepresidenan. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, terlihat merapat bersama ekonom terkemuka Chatib Basri pada Selasa, 9 Juni 2026. Kunjungan ini sontak memicu spekulasi di tengah gejolak pasar pasca keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

Related Post
Dalam keterangannya kepada awak media di kompleks Istana, Luhut menjelaskan bahwa kedatangannya merupakan bagian dari rutinitas pelaporan kepada Presiden Prabowo Subianto. "Tidak ada jadwal khusus. Ya, kami, Dewan Ekonomi, melaporkan perkembangan setiap bulan atau sekitar lima minggu sekali," ujar Luhut, meredakan dugaan adanya agenda mendesak terkait isu tertentu.

Namun, fokus utama pertanyaan wartawan tak lepas dari langkah Bank Sentral yang baru-baru ini menaikkan BI-Rate. Meskipun tidak secara eksplisit menyatakan bahwa kenaikan suku bunga menjadi topik utama pembahasan di Istana, Luhut memberikan tanggapan singkat namun penuh makna. "Kan bagus, ngerem anu," katanya, mengindikasikan bahwa kebijakan pengetatan moneter tersebut dianggap sebagai langkah pengereman yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Menanggapi persepsi publik mengenai kenaikan BI-Rate yang dianggap mendadak, Luhut menegaskan keyakinannya terhadap fundamental ekonomi Indonesia. "Tidak. Bagus-bagus kok, ekonomi kita, fundamental masih oke," tegasnya. Pernyataan ini bertujuan untuk menenangkan pasar dan investor, meyakinkan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia masih dalam jalur yang kuat.
Meski demikian, Luhut tidak menampik adanya beberapa titik yang memerlukan perhatian serius. Ia secara spesifik menyoroti dampak berkelanjutan dari konflik geopolitik, khususnya "perang Teluk" atau "perang Hormuz". "Tapi memang kita perlu ada perhatian di beberapa titik karena perang Teluk ini juga masih perang apa, perang Hormuz ini masih berkelanjutan," tambahnya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa keputusan BI mungkin juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berpotensi menciptakan ketidakpastian global, sehingga memerlukan kebijakan antisipatif dari dalam negeri.
Kunjungan dua tokoh ekonomi berpengaruh ini ke Istana, di tengah dinamika kebijakan moneter dan tantangan global, mengirimkan sinyal kuat bahwa pemerintah dan otoritas terkait terus memantau serta mengevaluasi kondisi ekonomi secara cermat demi menjaga stabilitas dan pertumbuhan.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar