55 NEWS – Pasar energi global dikejutkan dengan lonjakan harga minyak dunia yang dramatis, melonjak hingga 9% pada perdagangan Kamis (13/3/2026). Kenaikan signifikan ini mendorong harga ke level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir, memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan dan potensi inflasi yang meluas. Pemicu utamanya tak lain adalah eskalasi serangan Iran terhadap fasilitas minyak dan transportasi vital di berbagai penjuru Timur Tengah, ditambah dengan ancaman serius penutupan Selat Hormuz oleh pemimpin tertinggi Iran.

Related Post
Kontrak berjangka minyak mentah Brent, patokan global, mencatat kenaikan impresif sebesar USD8,48, atau 9,2%, mengakhiri sesi di level USD100,46 per barel. Bahkan, selama perdagangan berlangsung, Brent sempat menyentuh puncak intraday di angka USD101,60. Tak ketinggalan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menunjukkan performa serupa, ditutup pada USD95,70, setelah melonjak USD8,48 atau 9,7%. Kedua tolok ukur utama ini kini diperdagangkan pada level yang belum pernah terlihat sejak Agustus 2022, menandakan tekanan pasokan yang kian memuncak.

Gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi biang keladi utama di balik meroketnya harga komoditas strategis ini. Serangan yang kian intensif dari Iran terhadap infrastruktur minyak dan jalur transportasi krusial di kawasan tersebut telah menciptakan ketidakpastian akut. Puncaknya, ancaman penutupan Selat Hormuz oleh pemimpin tertinggi Iran memicu kekhawatiran global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar dunia, di mana sekitar sepertiga dari total pasokan minyak global melewati jalur sempit ini setiap harinya. Penutupannya akan secara efektif mencekik pasokan dan memicu krisis energi yang parah.
Menanggapi situasi ini, Jim Burkhard, Kepala Riset Minyak Mentah di S&P Global Energy, menegaskan bahwa pasar saat ini berada dalam kondisi ‘sangat tidak seimbang’. Menurutnya, ketidakseimbangan ini akan terus berlanjut hingga Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan seluruh operasi hulu maupun hilir kembali berfungsi normal. "Ini bukan masalah yang akan terselesaikan dalam waktu singkat," ujarnya, mengindikasikan prospek volatilitas harga yang berkepanjangan. Pernyataan Burkhard, yang dikutip oleh 55tv.co.id dari Reuters, menggarisbawahi kompleksitas tantangan yang dihadapi pasar energi global.
Di sisi lain, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, memberikan pernyataan yang menambah dimensi strategis pada krisis ini. Ia mengungkapkan bahwa Angkatan Laut AS saat ini belum dapat mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz. Namun, Wright menambahkan, ada kemungkinan besar bahwa kemampuan pengawalan tersebut dapat dipulihkan dan diimplementasikan pada akhir bulan ini. Pernyataan ini memberikan sedikit harapan di tengah ketegangan, meskipun implikasi jangka pendek terhadap pasokan masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar.
Kenaikan harga minyak yang drastis ini diperkirakan akan memicu efek domino pada perekonomian global, berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi, serta memicu tekanan inflasi di berbagai negara. Para analis kini memantau ketat perkembangan geopolitik di Timur Tengah, menanti langkah-langkah mitigasi yang dapat meredakan ketegangan dan menstabilkan pasar energi.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar