55 NEWS – Wacana elektrifikasi kendaraan roda dua, khususnya di sektor ojek daring (online) dan logistik, kini bukan lagi sekadar tren lingkungan, melainkan sebuah strategi ekonomi krusial. Langkah ini dipandang sebagai solusi rasional untuk meredam lonjakan beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terus menggerogoti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sekaligus memperkokoh ketahanan energi nasional di tengah gejolak harga minyak global akibat konflik geopolitik yang memanas.

Related Post
Abra Talattov, Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), dalam analisis terbarunya, menyoroti potensi penghematan luar biasa dari transisi ini. Ia memperkirakan, dengan estimasi sekitar 7 juta pengemudi ojek online dan logistik di Indonesia, konsumsi BBM harian mereka dapat mencapai angka fantastis antara 35 hingga 70 juta liter. Jika diakumulasikan dalam setahun, volume BBM yang tersedot bisa mencapai 12,7 hingga 25,5 miliar liter.

Menurut Abra, sektor transportasi daring dan logistik menjadi sasaran paling strategis untuk program efisiensi energi. Alasannya jelas: tingkat konsumsi BBM yang masif dan konsisten setiap harinya. Ia merinci, rata-rata seorang pengemudi ojek online dapat menghabiskan 5 hingga 10 liter BBM setiap hari untuk mobilitas operasionalnya.
Dengan skala konsumsi yang sedemikian besar, Abra menegaskan bahwa pengalihan sebagian armada kendaraan berbahan bakar fosil ke motor listrik akan memicu dampak substansial pada penghematan subsidi energi. "Bahkan, jika hanya 20% hingga 30% dari total pengemudi tersebut beralih ke motor listrik, potensi penghematan BBM yang bisa dicapai mencapai 2,5 hingga 7,5 miliar liter setiap tahun," ungkapnya, dalam pernyataan yang diterima 55tv.co.id baru-baru ini.
Lebih lanjut, Abra memaparkan bahwa dengan asumsi rata-rata subsidi BBM sebesar Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter, potensi penghematan fiskal bagi negara bisa melambung hingga Rp3,7 triliun bahkan mencapai Rp15 triliun per tahun. "Angka ini sangat krusial untuk secara signifikan mengurangi tekanan berat yang selama ini membebani APBN kita," imbuhnya.
Untuk mempercepat laju transisi ini, Abra menilai pemerintah perlu bertindak proaktif dengan menyediakan insentif yang agresif dan atraktif bagi para pengemudi ojek online. Ia berpendapat, subsidi sebesar Rp6 juta hingga Rp10 juta per unit motor listrik masih sangat realistis, terutama jika disinergikan dengan skema pembiayaan yang meringankan.
"Apabila insentif tersebut dilengkapi dengan skema kredit berbunga rendah atau opsi cicilan yang sangat ringan, di bawah Rp500.000 per bulan, kami yakin minat para pengemudi ojek daring untuk beralih ke kendaraan listrik akan melonjak drastis," pungkas Abra.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar