55 NEWS – Presiden terpilih Prabowo Subianto secara terbuka menyatakan keterkejutannya atas fakta bahwa PT Pertamina (Persero), perusahaan energi pelat merah yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional, ternyata membawahi hingga 200 anak dan cucu perusahaan. Pernyataan ini sontak memicu diskusi hangat mengenai urgensi dan skala konsolidasi besar-besaran yang mungkin akan diterapkan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) demi efisiensi dan fokus strategis yang lebih tajam.

Related Post
Keterkejutan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam acara Tasyakuran Hari Ulang Tahun ke-1 Danantara Indonesia pada Rabu, 11 Maret 2026. Dalam kesempatan itu, Prabowo menyoroti bagaimana struktur korporasi BUMN telah berkembang jauh melampaui tujuan awal pendiriannya. Ia mengingatkan kembali sejarah pembentukan BUMN pasca-kemerdekaan. "Kita tidak punya industri tekstil, negara mendirikan Patal Senayan. Tidak punya industri kertas, kita butuh buku, anak-anak perlu belajar, negara mendirikan pabrik kertas. Tidak punya obat waktu merdeka, negara mendirikan perusahaan-perusahaan farma," jelas Prabowo, menggambarkan betapa BUMN lahir dari kebutuhan fundamental bangsa untuk mandiri.

Semangat yang sama, lanjut Prabowo, juga melandasi pembentukan perusahaan negara untuk mengelola sumber daya alam vital seperti minyak dan mineral, di mana Pertamina menjadi salah satu entitas kunci. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan ekonomi, niat mulia para pendiri bangsa dalam membangun kemandirian justru melahirkan jaringan entitas bisnis yang semakin luas dan berlapis-lapis, hingga mencapai ratusan anak dan cucu perusahaan.
Menurut Prabowo, fenomena Pertamina dengan jumlah entitas yang masif ini adalah cerminan dari struktur BUMN yang berpotensi menjadi terlalu gemuk dan kurang efisien. Dari perspektif ekonomi, jumlah entitas yang begitu banyak dapat menimbulkan tantangan serius dalam hal pengawasan, koordinasi lintas unit, dan bahkan berisiko mengaburkan fokus inti bisnis perusahaan induk. Kondisi ini bisa memicu tumpang tindih fungsi, peningkatan biaya operasional yang tidak perlu, serta kesulitan dalam pengambilan keputusan strategis yang cepat dan adaptif di tengah dinamika pasar global.
Oleh karena itu, Prabowo mengisyaratkan perlunya langkah restrukturisasi dan konsolidasi yang komprehensif sebagai prioritas. Upaya ini diharapkan dapat merampingkan portofolio bisnis BUMN, mengoptimalkan pemanfaatan aset, dan memastikan bahwa setiap entitas beroperasi dengan tujuan yang jelas serta memberikan nilai tambah maksimal bagi negara. Konsolidasi BUMN bukan hanya sekadar merampingkan jumlah, melainkan juga merupakan langkah strategis untuk menciptakan perusahaan negara yang lebih gesit, kompetitif, dan mampu bersaing di kancah global secara berkelanjutan.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar