55 NEWS – Nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan, ditutup di level Rp17.804 per dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan pekan lalu. Mata uang Garuda ini terdepresiasi sebesar 10 poin atau sekitar 0,06 persen, mencerminkan tekanan ganda dari sentimen global maupun domestik yang terus membayangi stabilitas ekonomi nasional.

Related Post
Menurut analisis Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang, salah satu pemicu utama datang dari arena internasional. Pasar global sempat menunjukkan optimisme pasca kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran. Perjanjian ini bertujuan mengakhiri ketegangan dan memulihkan navigasi komersial di Selat Hormuz, jalur air vital yang krusial bagi seperlima pasokan minyak dunia.

Harapan akan kembalinya jutaan barel minyak mentah ke pasar internasional dalam beberapa minggu dan bulan mendatang, setelah AS mencabut blokade terhadap Iran, telah menghilangkan sebagian besar premi risiko geopolitik yang sempat melambungkan harga minyak di atas USD120 per barel. Namun, serangan udara Israel yang dilancarkan tak lama setelahnya menimbulkan keraguan baru terhadap prospek perdamaian tersebut. Di sisi lain, sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) juga turut memperkuat dolar AS. Sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed memproyeksikan setidaknya satu kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini, mengindikasikan bahwa biaya pinjaman kemungkinan akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang.
Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah pada rapat terakhir, komentar dari Ketua Kevin Warsh ditafsirkan pasar sebagai sangat agresif. Pernyataan ini sontak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan mengangkat nilai dolar AS ke level terkuatnya dalam lebih dari setahun. Menariknya, meskipun ekspektasi inflasi yang lebih rendah biasanya akan memicu kebijakan moneter yang lebih longgar, investor justru lebih fokus pada kesediaan The Fed untuk kembali memperketat kebijakan jika tekanan harga terus berlanjut.
Dari ranah domestik, sentimen negatif juga datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga pemeringkat global ini secara resmi mengumumkan penurunan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan ‘2026 Global Market Accessibility Review’ mereka. Penurunan peringkat ini berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kemudahan akses informasi pasar di Indonesia, menambah tekanan pada pergerakan Rupiah. Kombinasi antara dinamika geopolitik yang volatil, kebijakan moneter agresif dari bank sentral terbesar dunia, serta sentimen negatif dari lembaga pemeringkat global, menciptakan badai sempurna yang menekan kinerja Rupiah. Para pelaku pasar kini menanti langkah strategis pemerintah dan Bank Indonesia untuk menstabilkan mata uang domestik di tengah ketidakpastian ini, demikian laporan dari 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar