55 NEWS – Kekhawatiran mendalam menyelimuti prospek nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), dengan proyeksi terburuk yang menyebutkan mata uang Garuda berpotensi melemah hingga menyentuh angka Rp20.400 per dolar AS dalam beberapa bulan mendatang. Prediksi ini bukan sekadar spekulasi tanpa dasar, melainkan cerminan dari pola tekanan historis yang berulang kali menghantam Rupiah dalam satu dekade terakhir, diperparah oleh dinamika geopolitik global yang kian memanas.

Related Post
Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies, memberikan analisis tajam mengenai fundamental ekonomi Indonesia. Ia menepis narasi umum tentang kekuatan ekonomi nasional yang konon ditopang cadangan devisa besar. Menurutnya, sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar Indonesia masih menunjukkan kerapuhan signifikan, sangat rentan terhadap guncangan eksternal, khususnya eskalasi konflik geopolitik.

"Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia," kata Anthony dalam keterangannya, Selasa (24/3/2026). Konflik di Timur Tengah, seperti potensi perang antara AS dan Iran, dikhawatirkan akan memicu gangguan serius pada pasokan minyak dan gas global. Implikasi domino dari situasi ini dapat mengguncang ekonomi dunia, termasuk Indonesia, yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap stabilitas harga komoditas dan aliran investasi.
Budiawan lebih lanjut menjelaskan bahwa cadangan devisa Indonesia, meskipun tampak besar secara nominal, sesungguhnya terisi oleh akumulasi utang luar negeri, baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia. Ironisnya, utang-utang ini tidak sepenuhnya dialokasikan untuk kegiatan produktif yang dapat memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang. Sebaliknya, sebagian besar digunakan untuk memperkokoh cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi pasar.
Sejarah mencatat, dalam kurun waktu 2014 hingga 2025, Rupiah telah mengalami tiga periode tekanan hebat yang menggambarkan kerentanan ini. Episode pertama, antara September 2014 hingga September 2015, menyaksikan penurunan cadangan devisa sebesar USD9,44 miliar, diikuti depresiasi Rupiah sekitar 20 persen, dari Rp12.185 menjadi Rp14.650 per dolar AS. Kala itu, pemerintah merespons dengan menerbitkan obligasi internasional melalui global bond dan Samurai bond senilai sekitar USD6,85 miliar untuk menahan tekanan.
Tekanan kedua terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2018, di mana cadangan devisa kembali terkuras USD17,13 miliar, dan Rupiah melemah 13,5 persen, bergerak dari Rp13.388 menjadi Rp15.202 per dolar AS. Lagi-lagi, solusi yang ditempuh adalah mengandalkan penerbitan utang luar negeri sekitar USD11,4 miliar untuk menjaga stabilitas pasar.
Puncak tekanan paling dramatis terjadi pada awal pandemi COVID-19 di tahun 2020. Hanya dalam satu bulan, cadangan devisa anjlok sekitar USD10,7 miliar, dan Rupiah terdepresiasi hampir 20 persen, dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS.
Dari ketiga episode tersebut, Anthony Budiawan menyimpulkan bahwa besarnya cadangan devisa saja tidak serta-merta menjamin stabilitas Rupiah. Stabilitas mata uang nasional, menurutnya, sangat bergantung pada keberlanjutan aliran dana eksternal, atau dengan kata lain, kemampuan Indonesia untuk terus berutang. Ini mengindikasikan bahwa fondasi stabilitas Rupiah saat ini masih sangat bergantung pada ketersediaan pinjaman luar negeri, sebuah kondisi yang patut diwaspadai oleh para pembuat kebijakan dan pelaku pasar, seperti dilansir oleh 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar