55 NEWS – Pasar komoditas global dikejutkan oleh volatilitas ekstrem pada perdagangan Selasa lalu, ketika harga minyak dunia mengalami koreksi tajam setelah sempat mencapai level tertinggi. Minyak mentah Brent, patokan internasional, anjlok signifikan sebesar 8% dan diperdagangkan di kisaran USD91,05 per barel. Tak kalah dramatis, West Texas Intermediate (WTI), acuan di Amerika Serikat, merosot lebih dalam hingga 8,5%, mengakhiri sesi di level USD86,77 per barel.

Related Post
Penurunan drastis ini datang setelah euforia dan kepanikan melanda pasar pada sesi perdagangan Senin, di mana sentimen spekulatif mendorong harga minyak melonjak tak terkendali, bahkan sempat menyentuh angka psikologis USD120 per barel. Lonjakan tersebut memicu kekhawatiran serius akan tekanan inflasi global yang semakin memburuk.

Meskipun koreksi harga ini membawa angin segar bagi upaya mitigasi inflasi di berbagai negara, dampaknya justru berbalik pahit bagi para emiten di sektor energi. Indeks S&P 500 mencatat bahwa sektor energi mengalami pukulan terberat, dengan penurunan signifikan 14,51 poin atau 0,21%, menutup perdagangan di posisi 6.781,48. Data ini, sebagaimana dilaporkan oleh Investing pada Rabu (11/3/2026), mengindikasikan adanya pergeseran sentimen investor yang cepat.
Faktor lain yang tak kalah krusial dalam memicu tekanan jual masif ini adalah rencana mendesak dari para menteri energi negara-negara G7. Mereka dikabarkan akan segera membahas opsi pelepasan cadangan minyak strategis darurat, sebuah langkah yang secara historis selalu menekan harga komoditas ini. Spekulasi mengenai langkah antisipatif G7 ini semakin memperkuat sinyal bahwa pasokan global mungkin akan segera bertambah, meredakan kekhawatiran kelangkaan yang sempat memicu lonjakan harga.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar