55tv.co.id – Jagat media sosial baru-baru ini diguncang oleh kabar burung yang menyebutkan adanya pergeseran kekuatan di sektor perbankan nasional. Sebuah isu panas beredar luas, mengklaim bahwa pengusaha ternama Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang lebih akrab disapa Haji Isam, tengah melakukan langkah besar untuk mengakuisisi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Namun, kabar yang memicu spekulasi di kalangan investor ini segera mendapat respons tegas dari pihak manajemen bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.

Related Post
Pihak manajemen BCA secara resmi telah meluncurkan bantahan keras terhadap isu yang berkembang di platform digital tersebut. Mereka menegaskan bahwa narasi mengenai rencana akuisisi saham BBCA oleh Haji Isam sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran. Informasi yang beredar tersebut dikategorikan sebagai berita bohong atau hoaks yang dapat menyesatkan publik.

Menanggapi kegaduhan yang terjadi, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, memberikan klarifikasi resmi kepada awak media di Jakarta. Ia menyatakan bahwa perusahaan tidak sedang melakukan aksi korporasi sebagaimana yang digosipkan oleh netizen. Hera menekankan bahwa informasi mengenai rencana perubahan kepemilikan saham tersebut adalah tidak benar.
Dalam keterangannya, Hera juga memberikan peringatan keras kepada seluruh nasabah, investor, maupun masyarakat luas agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas sumbernya. Ia mengimbau agar publik selalu bersikap kritis dan hanya merujuk pada saluran informasi resmi, baik melalui situs web perusahaan maupun media massa yang memiliki kredibilitas tinggi. BCA berkomitmen untuk selalu menjalankan operasional bisnisnya dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian, integritas, serta kepatuhan penuh terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia.
Jika menilik struktur kepemilikan sahamnya, posisi kendali BCA saat ini masih sangat solid di bawah kendali grup keluarga Hartono. Berdasarkan data terbaru, kepemilikan saham BCA masih didominasi oleh PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) yang memegang kendali sebesar 54,94 persen atau setara dengan 67,73 miliar saham. Sementara itu, sisanya sebesar 44,64 persen merupakan saham yang dimiliki oleh masyarakat, yang terbagi menjadi saham warkat dan nonwarkat.
Perlu diketahui bahwa struktur pengendali terakhir BCA sempat mengalami penyesuaian setelah berpulangnya salah satu tokoh penting, Bambang Hartono. Sebelumnya, kendali perusahaan dipegang secara bersama oleh Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono melalui PT DIA. Namun, pasca wafatnya Bambang Hartono, sesuai dengan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan pada Juli 2026, kendali penuh kini beralih kepada Robert Budi Hartono. Meskipun terjadi perubahan pada tingkat pengendali terakhir, persentase kepemilikan Robert di PT DIA tetap stabil di angka 51 persen, yang menjadikannya pemegang saham pengendali tunggal saat ini.










Tinggalkan komentar