55tv.co.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Kadin Anindya Novyan Bakrie lantang menyuarakan desakan agar blok ekonomi BRICS membuka pintu pasar selebar-lebarnya. Ini bukan sekadar permintaan biasa melainkan strategi jitu bagi Indonesia khususnya UMKM untuk meraup potensi ekonomi raksasa yang meliputi hampir separuh populasi bumi dan sekitar 40 persen kekuatan ekonomi global.

Related Post
Desakan strategis tersebut disampaikan Anindya dalam forum bisnis BRICS di New Delhi India. Di hadapan para pemimpin dunia ia mengusung visi besar Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada hilirisasi industri peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kemandirian ekonomi bangsa.

Anindya menegaskan posisi strategis Indonesia dalam konstelasi kerja sama BRICS. Ia menyatakan Indonesia menolak tegas hanya menjadi sasaran pasar semata melainkan bertekad kuat menjadi pemain kunci yang turut membentuk arah kebijakan serta arsitektur kerja sama ekonomi BRICS ke depan. Pernyataan ini disampaikan di hadapan sejumlah tokoh penting seperti Perdana Menteri India Narendra Modi Presiden Rusia Vladimir Putin Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Dalam sesi pengembangan perdagangan dan jasa intra-BRICS Anindya mengungkapkan kebanggaannya atas bergabungnya Indonesia ke dalam wadah kerja sama bergengsi ini di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Kehadiran kepengurusan resmi di tingkat dunia usaha kini semakin memperkuat daya tawar Indonesia untuk mempercepat laju perdagangan investasi pengembangan industri transfer teknologi hingga sektor jasa antarnegara anggota.
"Kami sangat gembira dan merasa terhormat bahwa Indonesia kini menjadi bagian dari keluarga besar BRICS berkat visi Presiden Prabowo. Indonesia kini memiliki chapter yang sangat aktif dalam BRICS Business Council" ujar Anindya dalam keterangan resminya.
Anindya menggarisbawahi besarnya skala ekonomi BRICS yang merangkul 40 persen dari total ekonomi global menciptakan daya tawar luar biasa untuk mengukir peta jalan ekonomi masa depan. Namun kekuatan dahsyat ini diiringi pula dengan tanggung jawab etis untuk memastikan pemerataan hasil pertumbuhan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat di negara-negara anggotanya.
"Ketika kita membahas BRICS kita sedang berbicara tentang hampir separuh umat manusia dan sekitar 40 persen perekonomian dunia. Kita memiliki kekuatan ekonomi untuk membentuk masa depan sekaligus tanggung jawab besar untuk memastikan lebih banyak orang dapat merasakan manfaatnya" pungkas Anindya.










Tinggalkan komentar