55 NEWS – Pasar finansial global berpotensi mengalami guncangan di akhir tahun 2025. Proyeksi terbaru dari Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengindikasikan bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan akan memangkas suku bunganya sebesar 50 basis poin (bps). Langkah ini dipicu oleh sinyal perlambatan ekonomi Negeri Paman Sam dan indikasi pasar tenaga kerja yang mulai mendingin.

Related Post
Josua Pardede mengungkapkan proyeksinya dalam PIER Economic Review Semester I tahun 2025. Menurutnya, pelonggaran kebijakan moneter The Fed akan membuka peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk turut menyesuaikan suku bunganya. "Kami melihat adanya ruang penurunan suku bunga The Fed sekitar 50 basis poin di sisa akhir tahun ini," ujarnya.

Data ekonomi AS menunjukkan dinamika yang kompleks. Meskipun pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal kedua meningkat menjadi 3 persen (annualized) setelah melambat di kuartal pertama, inflasi masih terkendali. Namun, sinyal pelonggaran pasar tenaga kerja semakin jelas. Data Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran pada awal Agustus mengindikasikan adanya pelemahan, yang memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
Lebih lanjut, Josua menyoroti adanya perbedaan pandangan (dissenting) di antara anggota Federal Open Market Committee (FOMC) dalam rapat terakhir di bulan Juli. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan kebijakan moneter The Fed di masa depan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi yang masuk. Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga, BI berpotensi untuk mengikuti langkah tersebut guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya saing Indonesia.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar