55 NEWS – Pasar komoditas pangan di Indonesia kembali bergejolak hebat pada Jumat, 13 Maret 2026. Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia menunjukkan lonjakan harga yang signifikan pada sejumlah kebutuhan pokok, mulai dari beras, bawang, cabai, hingga daging. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan daya beli masyarakat dan potensi inflasi yang kian menekan.

Related Post
Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas bawang. Bawang merah tercatat meroket 55,15% menjadi Rp67.800 per kilogram, sementara bawang putih tak kalah fantastis, melonjak 50,87% hingga mencapai Rp60.650 per kilogram. Sektor perberasan juga tak luput dari tekanan. Beras kualitas bawah I melambung 28,03% menjadi Rp18.500 per kilogram, diikuti beras kualitas bawah II yang naik 26,55% menjadi Rp18.350 per kilogram. Bahkan, beras kualitas medium I dan II masing-masing naik 25,71% dan 25,95%, menembus angka Rp20.050 dan Rp19.900 per kilogram. Beras kualitas super I dan II juga mengalami kenaikan substansial, yakni 23,55% dan 26,35%, mencapai Rp21.250 dan Rp21.100 per kilogram.

Di kategori cabai, gejolak harga juga sangat terasa. Cabai merah besar mencatat lonjakan paling ekstrem, yakni 85,97% hingga menyentuh Rp81.550 per kilogram. Cabai rawit merah keriting ikut naik tajam 60,84% menjadi Rp71.250 per kilogram, dan cabai rawit merah melonjak 35,78% ke level Rp107.200 per kilogram. Uniknya, di tengah badai kenaikan ini, hanya cabai rawit hijau yang menunjukkan sedikit penurunan, yakni 1,04%, berada di harga Rp52.200 per kilogram.
Sektor protein hewani dan pemanis juga tidak luput. Daging ayam ras segar naik 18,76% menjadi Rp48.750 per kilogram. Daging sapi, baik kualitas I maupun II, juga mengalami kenaikan signifikan, masing-masing 16,16% menjadi Rp167.800 per kilogram dan 19% menjadi Rp162.500 per kilogram. Gula pasir premium melambung 35,01% menjadi Rp26.800 per kilogram, sementara gula pasir lokal naik 20,75% menjadi Rp22.400 per kilogram.
Lonjakan harga yang serentak pada komoditas-komoditas strategis ini mengindikasikan adanya tekanan serius pada rantai pasok dan potensi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Para ekonom di 55tv.co.id menilai situasi ini dapat mempercepat laju inflasi dan mengikis daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah-langkah konkret untuk menstabilkan harga, mulai dari memastikan ketersediaan pasokan hingga menindak praktik penimbunan yang dapat memperparah kondisi pasar. Tanpa intervensi yang cepat dan tepat, gejolak harga pangan ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar