Peringatan Dini Konsumen! Harga Pangan Nasional Awal 2026 Beri Angin Segar dengan Penurunan Drastis, Namun Waspada Pada Satu Komoditas Esensial Ini yang Justru Merangkak Naik Tipis! Analisis Dampak Ekonomi untuk Dompet Anda.

Peringatan Dini Konsumen! Harga Pangan Nasional Awal 2026 Beri Angin Segar dengan Penurunan Drastis, Namun Waspada Pada Satu Komoditas Esensial Ini yang Justru Merangkak Naik Tipis! Analisis Dampak Ekonomi untuk Dompet Anda.

55 NEWS – Memasuki awal tahun 2026, dinamika harga komoditas pangan nasional menunjukkan pergerakan yang menarik dan patut dicermati oleh pelaku ekonomi serta rumah tangga. Data terbaru dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Minggu, 4 Januari 2026, pukul 07.30 WIB, mengindikasikan mayoritas harga bahan pokok mengalami koreksi penurunan signifikan dibandingkan hari sebelumnya. Fenomena ini tentu menjadi angin segar bagi daya beli masyarakat di tengah potensi tekanan inflasi, meskipun ada satu komoditas vital yang justru menunjukkan tren kenaikan tipis, memicu pertanyaan tentang stabilitas pasokan jangka panjang.

COLLABMEDIANET

Sektor pangan strategis seperti beras mencatat penurunan harga yang patut diperhatikan. Beras premium turun 3,25% menjadi Rp15.053 per kilogram, beras medium anjlok 3,76% ke level Rp13.047 per kilogram, dan beras SPHP juga terkoreksi 1,44% menjadi Rp12.283 per kilogram. Penurunan serupa juga terlihat pada jagung, yang melorot 6,22% menjadi Rp6.541 per kilogram, serta kedelai biji kering impor yang turun 3,51% ke Rp10.434 per kilogram. Indikasi ini bisa menjadi sinyal positif terhadap stabilisasi pasokan dan potensi deflasi di sub-sektor pangan pokok.

Peringatan Dini Konsumen! Harga Pangan Nasional Awal 2026 Beri Angin Segar dengan Penurunan Drastis, Namun Waspada Pada Satu Komoditas Esensial Ini yang Justru Merangkak Naik Tipis! Analisis Dampak Ekonomi untuk Dompet Anda.
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Komoditas bumbu dapur yang kerap menjadi pemicu inflasi musiman, bawang dan cabai, juga menunjukkan tren penurunan yang tajam. Bawang merah turun 10,53% menjadi Rp41.088 per kilogram, sementara bawang putih terpangkas 8,37% menjadi Rp35.235 per kilogram. Lebih lanjut, harga cabai mengalami koreksi masif: cabai merah keriting turun 16,69% menjadi Rp39.937 per kilogram, cabai merah besar anjlok 26,28% ke Rp31.917 per kilogram, dan cabai rawit merah pun ikut melandai 13,48% menjadi Rp53.705 per kilogram. Penurunan drastis pada komoditas ini diharapkan dapat meringankan beban pengeluaran rumah tangga dan menjaga stabilitas harga di pasar tradisional.

Harga produk hewani juga tidak luput dari tren penurunan. Daging sapi murni turun 1,25% menjadi Rp133.970 per kilogram, diikuti daging ayam ras yang anjlok 5,21% ke Rp37.761 per kilogram. Telur ayam ras pun mengalami koreksi 5,64% menjadi Rp29.684 per kilogram. Fluktuasi ini perlu dicermati, terutama menjelang momen-momen permintaan tinggi yang biasanya memicu kenaikan harga.

Di kategori lain, gula konsumsi turun 2,29% menjadi Rp17.692 per kilogram. Minyak goreng kemasan juga terkoreksi 3,06% menjadi Rp20.365 per liter, dan Minyakita turun 2,58% menjadi Rp17.172 per liter. Tepung terigu curah juga menunjukkan penurunan signifikan 7,58% menjadi Rp9.011 per kilogram. Namun, di tengah gelombang penurunan yang merata ini, ada satu komoditas yang justru bergerak melawan arus: minyak goreng curah. Harga minyak goreng curah tercatat naik tipis 0,09% menjadi Rp17.771 per liter. Kenaikan minor ini, meskipun tidak drastis, menjadi anomali yang patut diwaspadai oleh konsumen dan regulator, mengingat minyak goreng curah adalah kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat dan sensitif terhadap gejolak pasar.

Secara keseluruhan, data Bapanas pada awal Januari 2026 ini memberikan gambaran positif mengenai stabilitas harga pangan, dengan mayoritas komoditas menunjukkan tren penurunan. Ini bisa menjadi indikator awal membaiknya pasokan, efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga ketersediaan, dan terkendalinya inflasi di sektor pangan. Namun, lonjakan tipis pada minyak goreng curah menjadi pengingat bahwa pengawasan pasar tetap krusial dan responsif terhadap dinamika pasokan-permintaan. Pemerintah melalui Bapanas dan kementerian terkait diharapkan terus memantau pergerakan harga untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat, sebagaimana dilaporkan oleh 55tv.co.id.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar