55 NEWS – Pasar komoditas energi global kembali menunjukkan dinamikanya yang kompleks. Pada perdagangan Senin, 05 Januari 2026, harga minyak mentah terpantau melemah, sebuah fenomena paradoks mengingat eskalasi ketegangan politik di Venezuela, salah satu produsen minyak utama dunia. Analis pasar menyoroti surplus pasokan global yang masih berlimpah sebagai faktor dominan di balik tren penurunan ini, menepis potensi gangguan pasokan dari krisis geopolitik.

Related Post
Data terkini menunjukkan, harga minyak mentah jenis Brent terkoreksi sebesar 34 sen AS, memposisikan diri di level USD60,41 per barel. Sementara itu, patokan minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga tidak luput dari tekanan jual, melemah 41 sen AS menjadi USD56,91 per barel. Penurunan ini terjadi di tengah sentimen pasar yang masih dibayangi oleh kekhawatiran akan kelebihan produksi global, yang tampaknya lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik.

Gejolak di Venezuela menjadi sorotan utama setelah Amerika Serikat, pada akhir pekan lalu, dilaporkan berupaya menyingkirkan Presiden Nicolás Maduro dari ibu kota Caracas. Presiden AS saat itu, Donald Trump, bahkan secara terang-terangan menyatakan niat Washington untuk mengambil alih kendali atas negara yang kaya akan cadangan minyak tersebut. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari Venezuela sempat mencuat di kalangan pelaku pasar, mengingat posisi strategis negara tersebut dalam peta produksi minyak dunia.
Namun, laporan eksklusif yang dihimpun 55tv.co.id dari dua sumber internal yang memahami operasional perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, mengindikasikan bahwa manuver politik AS tersebut sejauh ini belum menimbulkan kerusakan signifikan pada aktivitas produksi maupun penyulingan minyak di negara tersebut. Kondisi ini meredakan kekhawatiran akan adanya gangguan pasokan yang substansial, sehingga tekanan dari sisi penawaran yang berlebih di pasar global kembali menjadi fokus utama para investor dan trader.
Para pengamat ekonomi dari 55tv.co.id menilai bahwa selama kondisi kelebihan pasokan global belum teratasi secara fundamental, harga minyak akan cenderung sulit untuk bangkit secara signifikan, bahkan di tengah gejolak geopolitik sekalipun. Dinamika penawaran dan permintaan global tetap menjadi penentu utama arah pergerakan harga komoditas strategis ini.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar