55 NEWS – Momen Lebaran tahun 2026 menjadi penanda istimewa bagi Purbaya Yudhi Sadewa, yang merayakan Idul Fitri perdananya sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia. Di tengah sorotan publik terhadap perannya sebagai bendahara negara, Purbaya justru menampilkan sisi yang jauh dari kesan formal, memadukan kesederhanaan pribadi dengan beratnya tanggung jawab mengelola fiskal nasional. Penampilannya yang santai namun penuh percaya diri, mengenakan baju koko lengan pendek hasil buruannya di Pasar Tanah Abang, menjadi potret menarik di hari raya tersebut.

Related Post
Filosofi Hemat Sang Bendahara Negara: Menawar Harga di Pasar Tradisional

Dalam sebuah perbincangan santai dengan awak media usai menunaikan salat Id di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Purbaya berbagi kisah unik seputar persiapan Lebarannya. Ia tanpa ragu mengakui kebiasaannya menawar harga saat berbelanja pakaian. "Ini di Tanah Abang waktu itu. Kayanya ini 125 ribu, dikit lah tawarnya. Boleh (nawar), kan kita ngirit. Ini jangan kelihatan ya," candanya, menunjukkan sisi humanis seorang pejabat tinggi yang tak malu berhemat.
Menariknya, meskipun ia sendiri yang melakukan tawar-menawar, urusan pembayaran tetap dilakukan secara tertib oleh pendampingnya. "Yang bayar Pak Sekjen soalnya," tambahnya sambil tertawa, mengundang senyum dari para jurnalis yang meliput. Tindakan ini, meski terkesan sepele, bisa dimaknai sebagai cerminan filosofi kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan, bahkan di ranah personal, yang relevan dengan perannya sebagai penjaga kas negara.
Tantangan dan Kebahagiaan di Lebaran Perdana sebagai Nakhoda Keuangan Negara
Menjabat sebagai Menteri Keuangan di tahun 2026 membawa dimensi baru bagi perayaan Lebaran Purbaya. Ia mengakui bahwa beban pikiran yang menyertai jabatannya kini jauh lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tanggung jawab besar dalam mengelola keuangan negara, memastikan stabilitas ekonomi, dan menjaga kepercayaan publik, kerap membuatnya sulit tidur.
"Pertama jadi Menteri ya… Lebih berat daripada biasanya. Kalau malam santai aja masih mikir gitu. Kadang-kadang susah tidur," ungkap Purbaya jujur. Namun, di balik pengakuan akan beratnya tugas, ia juga menemukan kepuasan mendalam. "Tapi lebih senang. Bonus lebih banyak," tambahnya, mengisyaratkan bahwa "bonus" yang dimaksud mungkin bukan sekadar materi, melainkan kepuasan batin dari pengabdian dan kontribusi nyata bagi bangsa. Ini menunjukkan perspektif seorang pemimpin yang melihat tantangan sebagai peluang untuk memberikan dampak positif.
Keseimbangan Antara Tugas Negara dan Kehangatan Keluarga
Di tengah padatnya jadwal dan beratnya beban pikiran, Purbaya tetap menunjukkan komitmennya sebagai seorang kepala keluarga. Ia menyempatkan diri untuk bersantai dan menghabiskan waktu berkualitas bersama istri dan anak-anaknya. Bahkan, ia tak segan menunjukkan sisi modern dan akrabnya dengan teknologi.
"Semalam live TikTok sama anak saya, saya main sama dia lah," ujarnya. Momen ini memperlihatkan bagaimana seorang Menteri Keuangan, dengan segala kompleksitas pekerjaannya, tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup, menemukan kebahagiaan dalam interaksi keluarga, dan bahkan memanfaatkan platform digital untuk mendekatkan diri dengan orang-orang terkasih. Ini adalah gambaran seorang pemimpin yang seimbang, mampu menavigasi antara tuntutan profesional dan kehangatan personal.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar