55 NEWS – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memancarkan optimisme tinggi terkait prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Ia meyakini bahwa dinamika dan geliat konsumsi masyarakat sepanjang bulan suci Ramadan akan menjadi katalisator utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,5%. Pernyataan ini memberikan angin segar di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Related Post
Keyakinan tersebut diungkapkan Airlangga usai menunaikan salat Id di Masjid Salahuddin, kompleks Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, pada Sabtu (21/3/2026). "Target 5,5 persen itu kelihatannya bisa dicapai, berkat geliat selama Ramadan," tegasnya, menyoroti sinyal positif dari berbagai indikator ekonomi selama periode tersebut. Aktivitas perdagangan, mobilitas masyarakat, dan peningkatan permintaan barang dan jasa selama bulan puasa hingga Idul Fitri memang secara historis selalu memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian domestik.

Kendati demikian, Airlangga juga menyoroti aspek inflasi yang kerap menjadi perhatian menjelang dan selama perayaan Lebaran. Ia menjelaskan bahwa pemerintah, melalui tim ekonomi, akan terus memantau pergerakan data harga secara berkala hingga seluruh rangkaian perayaan Idul Fitri usai. Pengawasan ketat ini penting untuk memastikan stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Namun, ada catatan penting yang disampaikan Airlangga terkait perbandingan angka inflasi tahun ini dengan periode sebelumnya. "Nanti kita lihat, inflasi kan perhitungannya lebih cepat, jadi kita lihat saja sampai akhir Lebaran. Tetapi, basis perhitungan tahun kemarin memang rendah," jelasnya. Ia merujuk pada fenomena low base atau basis rendah yang terjadi pada tahun sebelumnya. Deflasi signifikan di sektor energi, khususnya tarif listrik pada Februari 2025, menjadi pemicu utama basis rendah tersebut.
Konsekuensinya, secara statistik, angka inflasi untuk tahun 2026 diproyeksikan akan terlihat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun kondisi riil mungkin tidak seburuk yang tertera pada angka semata. "Tahun kemarin sampai bulan Februari itu ada listriknya, jadi itu yang membuat inflasi tahun kemarin dari segi listriknya mengalami deflasi," urai Airlangga. Kondisi ini, menurutnya, perlu dipahami agar interpretasi data inflasi tidak bias dan dapat mencerminkan kondisi ekonomi secara lebih akurat, seperti dilaporkan oleh 55tv.co.id. Pemerintah berkomitmen untuk mengkomunikasikan data ini secara transparan kepada publik.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar