55tv.co.id – Nilai tukar Rupiah menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang kebanggaan Indonesia tersebut berhasil menguat signifikan sebesar 84 poin atau setara dengan kenaikan 0,47 persen. Pada akhir sesi perdagangan, Rupiah berhasil mendarat di level Rp17.882 per dolar AS, sebuah pencapaian yang memberikan angin segar bagi stabilitas ekonomi domestik.

Related Post
Kenaikan ini tidak lepas dari dinamika pasar global yang sedang mengalami ketidakpastian tinggi. Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa salah satu pemicu utama pergerakan ini adalah meningkatnya spekulasi mengenai tensi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi akan semakin memanas, terutama menjelang pemilihan umum paruh waktu di AS pada bulan November mendatang.

Ibrahim menjelaskan bahwa adanya rencana pengiriman tambahan 10.000 tentara AS ke wilayah Timur Tengah serta isu rencana serangan udara terhadap Iran telah menciptakan kekhawatiran di kalangan investor. Kondisi ini membuat pelaku pasar sangat waspada terhadap stabilitas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran paling vital bagi pasokan energi dunia. Jika konflik ini meluas, risiko inflasi global akan melonjak, yang pada akhirnya memaksa kebijakan moneter menjadi lebih ketat.
Di sisi lain, pasar juga tengah mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Terdapat perbedaan nada di antara para pejabat The Fed. Wakil Ketua Philip Jefferson memberikan sinyal bahwa kondisi lapangan kerja di AS saat ini sudah mendekati titik maksimal, sehingga ia menekankan pentingnya sikap sabar dalam melakukan penyesuaian suku bunga. Sebaliknya, Neel Kashkari, Presiden The Fed Minneapolis, justru menunjukkan sikap hawkish dengan mendorong adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Fokus pasar saat ini juga tertuju pada rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat untuk periode September. Para ekonom memproyeksikan adanya perlambatan penyerapan tenaga kerja, di mana penambahan lapangan kerja diperkirakan hanya mencapai 90.000, turun drastis dari angka 162.000 pada bulan Agustus lalu. Sementara itu, tingkat pengangguran diprediksi akan bertahan di angka 4,1 persen. Menariknya, data inflasi yang lebih rendah telah meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Peluang kenaikan suku bunga pada bulan Oktober kini hanya diprediksi sebesar 26 persen, merosot tajam dari angka 69 persen pada pekan sebelumnya.
Dari sisi domestik, penguatan Rupiah juga didorong oleh langkah proaktif Bank Indonesia (BI). Bank sentral Indonesia tersebut telah mengambil kebijakan strategis dengan memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai instrumen underlying dalam operasi moneter. Dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi ke dalam daftar tersebut, BI memberikan ruang yang lebih luas bagi perbankan untuk mengelola likuiditas. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan nasional, sekaligus memperkuat fundamental nilai tukar Rupiah di tengah guncangan global.










Tinggalkan komentar