Sektor Keuangan RI Siaga Hadapi Badai Global

Sektor Keuangan RI Siaga Hadapi Badai Global

55tv.co.id – Stabilitas sektor jasa keuangan di Indonesia saat ini tengah berada dalam sorotan tajam di tengah kondisi dunia yang semakin tidak menentu. Meskipun dinamika ekonomi global menunjukkan tren yang penuh tantangan, otoritas keuangan Indonesia menegaskan bahwa ketahanan sektor domestik masih mampu bertahan menghadapi gempuran ketidakpastian geopolitik serta kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh negara-negara maju.

COLLABMEDIANET

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, memaparkan bahwa lanskap ekonomi dunia pada tahun 2026 diprediksi akan mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2025. Namun, ia memberikan catatan optimis bahwa pertumbuhan ekonomi global masih memiliki peluang untuk melampaui ekspektasi awal. Hal ini didorong oleh masifnya aliran investasi dan perkembangan perdagangan yang kini berbasis pada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Sektor Keuangan RI Siaga Hadapi Badai Global
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Meski teknologi memberikan napas baru bagi ekonomi, Friderica memperingatkan adanya risiko eksternal yang dapat menjadi penghambat serius bagi proses pemulihan ekonomi dunia. Salah satu ancaman utama yang membayangi adalah lonjakan inflasi global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di berbagai belahan dunia. Ketegangan antarnegara ini berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak mentah dunia, yang kemudian menciptakan efek domino pada biaya energi global.

Selain faktor konflik, fenomena alam juga menjadi ancaman nyata bagi stabilitas harga. Friderica menyoroti dampak dari fenomena El Nino yang sangat kuat, yang berpotensi mengganggu rantai pasokan pangan. Kondisi iklim ekstrem ini diprediksi akan memicu kenaikan harga komoditas pertanian secara signifikan, yang pada akhirnya akan menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan angka inflasi.

"Keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi global masih menghadapi tantangan besar, mulai dari kenaikan inflasi akibat konflik geopolitik yang menaikkan harga minyak, hingga dampak El Nino yang berpotensi mendorong harga pangan dan komoditas pertanian," ungkap Friderica dalam sebuah konferensi pers virtual terkait asesmen sektor jasa keuangan, Senin (5/10/2026).

Tekanan inflasi yang persisten ini memaksa bank-bank sentral utama di dunia, seperti di Amerika Serikat, kawasan Eropa, hingga Jepang, untuk mengambil langkah defensif. Mereka cenderung mempertahankan suku bunga kebijakan pada level yang tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama atau yang dikenal dengan istilah higher for longer. Kebijakan moneter yang ketat ini tentu memberikan tekanan tersendiri bagi aliran modal dan stabilitas nilai tukar di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

OJK terus memantau perkembangan ini secara ketat untuk memastikan bahwa sektor keuangan nasional tetap memiliki bantalan yang cukup kuat dalam menghadapi volatilitas pasar global yang terus berubah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar