55tv.co.id – Bursa Efek Indonesia BEI kini tengah berjuang keras mempertahankan posisi pasar saham Tanah Air dari ancaman degradasi. Otoritas bursa sedang berdialog intensif dengan S&P Dow Jones Indices penyedia indeks global terkemuka menyikapi potensi penurunan status Indonesia dari kategori pasar berkembang menjadi pasar perbatasan.

Related Post
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengungkapkan pihaknya masih menanti respons resmi dari S&P. Komunikasi semacam ini bukan hal baru bagi BEI yang secara rutin berkoordinasi dengan lembaga indeks global lain seperti Morgan Stanley Capital International MSCI dan FTSE Russell demi menjaga reputasi pasar modal Indonesia di mata dunia.

"Kami sudah menghubungi mereka namun masih menunggu balasan dari S&P" ujar Irvan kepada awak media di Jakarta pada Rabu 8 Juli 2026.
Demi menangkal potensi penurunan status tersebut BEI tak henti-hentinya melakukan berbagai reformasi pasar modal. Upaya perbaikan ini mencakup penyesuaian ketentuan minimum free float hingga transparansi pengungkapan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Irvan mengakui bahwa meskipun reformasi terus bergulir dampak nyata dari kebijakan baru seperti pemenuhan target free float yang ditetapkan pada 202 memerlukan waktu antara satu hingga tiga tahun untuk terlihat hasilnya. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya menjaga kepercayaan investor.
BEI berkomitmen penuh untuk melakukan segala upaya agar Indonesia tetap kokoh di klasifikasi pasar berkembang. Irvan memandang masukan dan catatan dari S&P sebagai peluang emas untuk terus meningkatkan kualitas bursa. Harapannya investor akan tetap optimistis terhadap prospek cerah pasar saham Indonesia di masa mendatang.
"Berbagai kekhawatiran yang muncul kami jadikan motivasi positif untuk melakukan perbaikan. Kami berharap investor tetap yakin bahwa bursa ini akan kami kelola dengan baik dan kami percaya BEI akan terus tumbuh lebih besar dari sebelumnya" tegas Irvan.










Tinggalkan komentar