55 NEWS – Pemerintah Republik Indonesia tengah serius mengkaji pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang khusus berfokus pada sektor tekstil. Langkah strategis ini digulirkan sebagai bagian integral dari upaya pemerintah untuk memperkokoh fondasi industri padat karya di Tanah Air, sekaligus menjadi solusi konkret dalam menata kembali perusahaan-perusahaan tekstil yang kini tergolong sebagai aset bermasalah. CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, memberikan konfirmasi mengenai inisiatif penting ini, menggarisbawahi komitmen pemerintah terhadap keberlanjutan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Related Post
Rosan Roeslani menjelaskan bahwa setiap keputusan investasi yang diambil oleh pemerintah, termasuk potensi pembentukan BUMN tekstil ini, selalu didahului dengan studi kelayakan (feasibility study) dan asesmen komprehensif. Evaluasi tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari prospek bisnis, dinamika pasar, hingga proyeksi dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan. Namun, dalam konteks industri tekstil yang memiliki karakteristik unik, pemerintah membuka ruang fleksibilitas untuk tetap masuk pada proyek dengan tingkat pengembalian investasi yang mungkin lebih rendah, asalkan manfaat yang dihasilkan terhadap penyerapan tenaga kerja dinilai sangat signifikan.

"Tentunya juga kita kan ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kita penuhi. Termasuk juga parameter bahwa kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan," ujar Rosan usai konferensi pers Realisasi Investasi 2025 di Jakarta, Kamis (15/1/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id. Pernyataan ini menegaskan prioritas pemerintah pada dimensi sosial dari setiap investasi yang dilakukan, terutama di sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi.
Menurut Rosan, sektor tekstil secara inheren merupakan industri padat karya yang memegang peranan vital dalam menggerakkan roda perekonomian daerah. Oleh karena itu, ketika entitas perusahaan di sektor ini menghadapi tekanan keuangan yang berat, pemerintah melihat adanya potensi besar untuk melakukan "turnaround" atau pembalikan kinerja melalui restrukturisasi menyeluruh. Pendekatan ini, tegasnya, bukan sekadar injeksi modal semata, melainkan sebuah strategi holistik.
"Kita terbuka untuk menerima, misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita, apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi," lanjutnya, menegaskan kembali prioritas pada dampak sosial.
Ia memaparkan, kerangka restrukturisasi yang disiapkan akan mencakup berbagai dimensi krusial. Ini meliputi penguatan permodalan, penjaminan akses pasar yang stabil, penyiapan "offtaker" atau pembeli siaga, perbaikan fundamental rantai pasok, hingga peningkatan efisiensi operasional secara menyeluruh. Pola serupa, imbuhnya, telah terbukti efektif dalam menata sejumlah BUMN di sektor lain yang sebelumnya juga menghadapi tantangan serius. Inisiatif ini diharapkan mampu mengembalikan vitalitas industri tekstil nasional dan menjaga keberlangsungan jutaan mata pencarian di tengah gejolak ekonomi global.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar