55 NEWS – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya angkat bicara mengenai penyebab utama banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Bencana alam ini telah menimbulkan kerusakan parah dan menelan korban jiwa, sehingga memerlukan penanganan serius dan komprehensif.

Related Post
Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyampaikan rasa duka cita mendalam atas musibah ini. "Kami di Kementerian ESDM menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera. Prioritas utama pemerintah saat ini adalah penanganan warga terdampak dan pemulihan wilayah," ujarnya di Jakarta, Minggu (30/11/2025).

Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM, terdapat tiga faktor utama yang memicu bencana di lima kabupaten, yaitu Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara. Faktor yang paling dominan adalah curah hujan tinggi hingga ekstrem yang melampaui ambang batas normal.
Selain curah hujan, kondisi geomorfologi yang curam hingga sangat curam serta litologi yang lapuk dan mudah tererosi juga turut memperparah kerentanan wilayah tersebut. Kombinasi ketiga faktor ini menciptakan kondisi ideal untuk terjadinya banjir dan longsor.
Lana Saria menekankan pentingnya upaya pencegahan dan mitigasi bencana di tingkat masyarakat. "Peningkatan kapasitas masyarakat desa rawan bencana melalui identifikasi tanda awal longsor, jalur evakuasi, serta revitalisasi vegetasi lereng menjadi fondasi pencegahan di tingkat tapak," katanya.
Lebih lanjut, Lana menambahkan bahwa pengendalian tata guna lahan pada lereng curam, termasuk pembatasan pembukaan lahan baru dan perbaikan drainase permukaan, merupakan langkah struktural yang sangat menentukan dalam menurunkan risiko pada kawasan permukiman.
Terkait longsor yang terjadi di dua kabupaten di Sumatera Utara, Lana menjelaskan bahwa lokasi bencana umumnya berada di kawasan perbukitan curam hingga sangat curam yang mengelilingi Kota Sibolga, khususnya di sisi timur-selatan. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, Kota Sibolga secara umum berada pada zona potensi gerakan tanah menengah-tinggi, yang berarti wilayah ini rentan terhadap kejadian gerakan tanah.
Pemerintah berkomitmen untuk terus melakukan kajian mendalam dan mengambil langkah-langkah strategis untuk mengurangi risiko bencana di wilayah Sumatera dan daerah rawan bencana lainnya di Indonesia.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar