55 NEWS – Kebijakan bekerja dari rumah (WFH) yang diterapkan setiap hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun sektor swasta, alih-alih menjadi solusi tunggal untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM), justru memunculkan fenomena baru yang menarik perhatian: ‘Pergi Jumat Kembali Ahad’ (PJKA). Fenomena ini, yang merujuk pada kebiasaan pulang kampung atau berlibur di akhir pekan, menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas kebijakan tersebut dari sudut pandang ekonomi dan mobilitas.

Related Post
Aditya Dwi Laksana, Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), menyoroti bahwa pemilihan hari Jumat untuk WFH berpotensi besar hanya menggeser pola perjalanan. Dari yang semula untuk aktivitas kerja, kini beralih ke kegiatan rekreasi atau personal, mengingat kedekatannya dengan akhir pekan. Ini berarti, tujuan utama pengurangan konsumsi BBM mungkin tidak tercapai secara optimal, melainkan hanya terjadi pergeseran alokasi penggunaan bahan bakar yang berpotensi tidak efisien secara makroekonomi.

Aditya menegaskan bahwa kebijakan WFH tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus diintegrasikan dengan kebijakan lain yang lebih komprehensif untuk mencapai dampak ekonomi yang diinginkan. MTI mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap efektivitas WFH, khususnya dampaknya terhadap konsumsi BBM dan pola mobilitas masyarakat.
"Pemerintah perlu melakukan evaluasi melalui analisis before and after untuk mengetahui efektivitas kebijakan tersebut, termasuk apakah terjadi penurunan volume perjalanan, penurunan konsumsi BBM, serta perubahan pola mobilitas masyarakat," ujarnya, menekankan pentingnya data konkret dalam pengambilan keputusan ekonomi yang strategis.
Merujuk pada pembelajaran internasional, Aditya memaparkan bahwa beberapa negara telah berhasil menerapkan insentif berupa transportasi publik gratis dalam periode tertentu. Langkah ini bertujuan untuk mendorong peralihan signifikan dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi umum, yang secara langsung berkontribusi pada efisiensi energi dan pengurangan emisi. Selain itu, kebijakan transportasi juga diintegrasikan dengan stimulus ekonomi yang lebih luas serta percepatan elektrifikasi transportasi publik, menciptakan ekosistem transportasi yang lebih berkelanjutan dan efisien secara ekonomi. Tanpa pendekatan holistik semacam itu, WFH Jumat berisiko menjadi kebijakan parsial dengan dampak ekonomi yang tidak sesuai harapan.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar