55 NEWS – Kabar mengejutkan datang dari proyek strategis nasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Setelah berbulan-bulan menjadi sorotan terkait restrukturisasi utang yang kompleks, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dikabarkan akan mengambil alih pengelolaan proyek ini. Opsi ini, yang berpotensi mengubah lanskap bisnis BUMN secara signifikan, telah menjadi topik pembahasan intensif di kalangan pejabat tinggi negara.

Related Post
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam keterangannya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa lalu, mengonfirmasi bahwa pembahasan terkait penyelesaian Whoosh telah rampung. "Rapatnya sudah putus," tegas Purbaya, mengisyaratkan bahwa keputusan final telah diambil. Ia menambahkan, pengumuman resmi akan dilakukan dalam waktu dekat, mengingat banyak pihak yang terlibat dalam proyek ambisius ini. "Pembahasannya sudah selesai, tinggal formalitas, tapi saya belum bisa umumin karena bukan saya sendiri yang terlibat, itu nanti akan diumumkan mungkin. Tapi sudah clear itu seperti apa nanti pengelolaannya," jelas Purbaya, seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Senada dengan Purbaya, COO BPI Danantara yang juga Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, turut memberikan sinyal terkait opsi pengambilalihan PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) oleh Kemenkeu. Dony mengakui bahwa skema ini merupakan salah satu opsi utama yang sedang dipertimbangkan pemerintah untuk menuntaskan permasalahan finansial proyek Whoosh yang sempat membebani keuangan negara.
"Iya, kemungkinan, ini sedang kita, insya Allah mudah-mudahan sebentar lagi selesai, kita pikirin satu-satu kan. Ada beberapa skema tentunya, nanti saya akan update karena kalau sekarang belum final kita update nanti takut rame lagi," ungkap Dony. Ia menambahkan, keputusan final mengenai berbagai opsi penyelesaian, termasuk potensi pengambilalihan KCIC oleh Kemenkeu, akan rampung dalam satu hingga dua bulan ke depan. "Masih ada beberapa opsi pokoknya. Semua penyelesaian itu, jadi apakah opsi A, Opsi B, tapi 1-2 bulan ini akan selesai," imbuhnya kepada 55tv.co.id.
Implikasi dari keputusan ini tidak hanya terbatas pada KCIC, tetapi juga konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri dari sejumlah perusahaan pelat merah seperti PT KAI, PT WIKA, PT Jasa Marga, hingga PTPN. Dony Oskaria menekankan bahwa pemerintah bertekad untuk mengembalikan setiap BUMN pada porsi dan keahlian intinya. Sebagai contoh, PT WIKA yang sebelumnya terlibat dalam konsorsium Whoosh, akan difokuskan kembali pada bisnis kontraktor murni, sesuai dengan kompetensi utamanya. "Itu kita beresin sekalian, kan kita maunya sekali selesai tuntas semua kita kembalikan lagi ke porsinya, misalnya WIKA memang bukan bidangnya di situ kita akan fokus ke kontraktor. Nanti satu per satu kita bereskan. Kita maunya semua yang diselesaikan tuntas," pungkas Dony, menegaskan komitmen pemerintah untuk efisiensi dan fokus bisnis BUMN demi kesehatan finansial jangka panjang.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar