55 NEWS – Kilang Badak LNG, salah satu aset vital bagi perekonomian Indonesia, bersiap untuk menghidupkan kembali salah satu "naga" yang lama tertidur. Train F, fasilitas pengolahan gas alam cair (LNG) yang sempat berhenti beroperasi, ditargetkan kembali mengaum pada Oktober 2028. Langkah ini menjadi angin segar di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi dan ekspor LNG nasional.

Related Post
Saat ini, proses reaktivasi Train F sedang memasuki tahap asesmen yang komprehensif, dimulai sejak Februari dan dijadwalkan rampung pada November mendatang. Busori S, Sr. Mgr. Corporate Communication & Services Badak LNG, mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengaktifkan kembali Train F didorong oleh potensi pasokan gas baru dari lapangan gas ENI di tahun 2027-2028. "Ini akan memberikan dampak positif bagi devisa negara dan juga bagi kota Bontang," ujarnya di Bontang, Rabu (15/10/2025).

Proyek ambisius ini berjalan beriringan dengan pengembangan cadangan gas di Wilayah Kerja North Ganal, Kalimantan Timur, yang dikelola oleh perusahaan migas asal Italia, Eni. Estimasi awal menunjukkan potensi cadangan gas mencapai 5 triliun cubic feet (Tcf). Investasi yang digelontorkan untuk reaktivasi Train F diperkirakan mencapai USD139 juta atau sekitar Rp2,2 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.000 per USD).
Namun, menghidupkan kembali fasilitas yang telah "tertidur" sejak tahun 2020 bukanlah perkara mudah. Manajemen Badak LNG mengakui bahwa jadwal reaktivasi yang ketat dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari persoalan teknis hingga persaingan ketat dalam mendapatkan sumber daya, vendor, dan pengiriman peralatan di pasar LNG global yang dinamis. Setidaknya, ada 7.200 aset dan peralatan yang perlu di-asses dan berpotensi diganti untuk memastikan Train F dapat beroperasi optimal.
Meskipun demikian, Badak LNG tetap optimistis dapat menyelesaikan proyek reaktivasi sesuai jadwal. Pengalaman dan kompetensi yang dimiliki menjadi modal utama untuk mengatasi berbagai rintangan yang ada. "Yang paling penting adalah memastikan upstream sudah siap ketika train sudah ready," tegasnya.
Saat ini, anak usaha Pertamina Hulu Energi ini mengoperasikan 2 train LNG, ditambah 1 train sebagai cadangan. Infrastruktur pendukung lainnya meliputi 5 tangki LPG (masing-masing berkapasitas 40.000 m3), 6 tangki LNG (total kapasitas 636.000 m3), kilang LPG berkapasitas 1 juta metrik ton per tahun (MMTpa), serta 8 kilang proses LNG/LPG dengan kapasitas desain 22,5 MMTpa dan kapasitas penyerapan gas mencapai 3.700 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd). Selama lima dekade beroperasi, Badak LNG telah mencatatkan prestasi gemilang dengan melakukan pengapalan lebih dari 10.000 kargo LNG.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar