55 NEWS – Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap transformasi signifikan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan. Kunjungan kerja Menkop pada Senin, 22 Desember 2025, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menjadi momentum penting untuk mendorong KPBS agar tidak hanya fokus pada produksi susu pasteurisasi, melainkan juga merambah industri pengolahan susu (IPS) dengan memproduksi susu UHT. Langkah strategis ini diharapkan mampu memperluas kontribusi KPBS dalam ekosistem program prioritas pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG).

Related Post
Dalam keterangannya kepada awak media, Ferry Juliantono menyampaikan harapannya agar KPBS Pangalengan dapat mengembangkan teknologi yang ada. "Saya sangat berharap fasilitas pasteurisasi di sini bisa ditingkatkan dengan pembangunan lini pabrik baru khusus untuk memproduksi susu UHT," tegas Ferry, menggarisbawahi visi jangka panjang untuk peningkatan kapasitas dan diversifikasi produk.

Kunjungan tersebut juga diwarnai dengan momen penting penandatanganan dua perjanjian kerja sama. Pertama, antara KPBS Pangalengan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jayabaya 2, berfokus pada pengadaan susu pasteurisasi untuk mendukung program MBG. Kedua, perjanjian antara KPBS Pangalengan dengan Kopdes Merah Putih Margamulya, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas melalui pelatihan koperasi.
Ferry menjelaskan bahwa produk susu UHT dan pasteurisasi dari KPBS Pangalengan nantinya akan didistribusikan dan dijual melalui seluruh jaringan gerai Kopdes Merah Putih yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk memastikan kelancaran ekspansi ini, Menkop juga menegaskan komitmen dukungan finansial. "Saya pastikan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi siap sedia membantu apabila KPBS Pangalengan memerlukan tambahan pembiayaan untuk kebutuhan industri UHT ini," imbuhnya, memberikan jaminan ketersediaan modal.
Menkop turut menyoroti praktik industri pengolahan susu di Tanah Air yang selama ini banyak bergantung pada impor susu bubuk skim sebagai bahan baku. Ia mengungkapkan bahwa regulasi menteri yang sebelumnya memperbolehkan masuknya komoditas ini kini telah dicabut, membuka peluang baru bagi produksi susu lokal.
"Apabila koperasi mampu mengembangkan industri pengolahan susu secara mandiri, ini akan secara langsung menyerap hasil produksi susu segar dari para peternak sapi perah kita," jelas Ferry. Dengan nada tegas, ia menambahkan, "Saya pastikan impor susu bubuk skim akan kami larang. Kebijakan ini krusial karena impor tersebut selama ini terbukti mematikan semangat dan kesejahteraan peternak sapi perah domestik."
Lebih lanjut, Ferry menekankan pentingnya peningkatan populasi sapi perah di Indonesia, yang sangat vital bagi keberlangsungan usaha peternak. "Kami akan mendukung penuh program pemerintah dalam upaya menambah populasi sapi perah. Selain itu, kami juga akan gencar melakukan advokasi untuk membendung masuknya susu bubuk skim impor," pungkasnya, menegaskan komitmen untuk kedaulatan pangan dan perlindungan peternak lokal.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar