Badai PHK Menerjang! Perusahaan Elektronik Legendaris Tutup, Ratusan Buruh Kehilangan Pekerjaan, Ribuan Lainnya Menanti Nasib. Apakah Ini Awal Krisis Ekonomi Nasional?

55 NEWS – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kian mengganas di Indonesia, mengirimkan sinyal bahaya bagi stabilitas ketenagakerjaan. Terkini, sebanyak 350 pekerja terpaksa dirumahkan menyusul penutupan total operasional PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat. Perusahaan yang dulunya dikenal sebagai PT Sanyo Indonesia ini menyerah pada persaingan pasar yang kian ketat dan tak mampu lagi mempertahankan eksistensinya.

COLLABMEDIANET

"PT Xacti Indonesia telah menutup total operasionalnya dengan melakukan PHK terhadap 350 orang karyawan karena sudah tidak mampu lagi bersaing," ungkap Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, dalam konferensi pers virtual pada Senin (25/5/2026). Pernyataan ini menjadi sorotan tajam di tengah kekhawatiran akan masa depan industri manufaktur nasional.

Badai PHK Menerjang! Perusahaan Elektronik Legendaris Tutup, Ratusan Buruh Kehilangan Pekerjaan, Ribuan Lainnya Menanti Nasib. Apakah Ini Awal Krisis Ekonomi Nasional?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Fenomena PHK massal kini tak lagi terbatas pada satu sektor atau wilayah. Dari industri elektronik, tekstil, hingga otomotif, badai efisiensi ini merambah berbagai provinsi di Indonesia. Iqbal menjelaskan, kondisi ini adalah refleksi nyata dari rapuhnya ketahanan industri domestik terhadap gejolak eksternal. Ketidakpastian pasar global yang tak kunjung mereda telah menekan industri manufaktur, memaksa banyak perusahaan mengambil langkah ekstrem seperti penutupan total atau bahkan pailit demi bertahan.

Meski demikian, Iqbal memastikan bahwa proses advokasi bagi karyawan PT Xacti telah mencapai titik terang. Berdasarkan laporan dari anggota di lapangan, para pekerja yang terdampak menerima kompensasi pesangon yang menggembirakan, yakni sebesar dua kali ketentuan undang-undang ketenagakerjaan, termasuk uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak.

Namun, di luar Depok, potret suram ketenagakerjaan terus membayangi. Di Karawang, Jawa Barat, tercatat total 1.323 orang terkena PHK dengan beragam alasan, mulai dari penutupan perusahaan (295 orang), langkah efisiensi (294 orang), hingga disharmoni manajemen internal. Angka ini menunjukkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi sektor industri.

Kelesuan ekonomi juga merambat ke Banten, khususnya Serang dan Tangerang, dengan sektor sepatu dan tekstil menjadi korban utama. Sejumlah perusahaan besar seperti PT Sinhwa Bis, PT Lung Cheong, dan PT PWI telah merumahkan ratusan pekerjanya. Bahkan, raksasa produsen sepatu PT Nikomas Gemilang turut melakukan efisiensi dengan mem-PHK 279 karyawannya pada bulan Mei ini, sebuah indikasi bahwa bahkan perusahaan besar pun tak luput dari tekanan.

Sektor otomotif pun tak luput dari hantaman, terutama karena ketergantungan pada bahan baku impor dan penurunan daya beli masyarakat. Hal ini terlihat jelas dari lesunya permintaan kendaraan di pasar domestik yang memicu penutupan unit usaha di berbagai daerah.

"Di Sidoarjo, CV Asri, yang bergerak di bidang showroom mobil dan perbengkelan, telah mem-PHK 200 orang karena tidak kuat bertahan akibat permintaan mobil yang rendah. Ini dipicu oleh kenaikan harga jual imbas melemahnya Rupiah terhadap Dolar," terang Iqbal, sebagaimana dikutip dari 55tv.co.id.

Gelombang PHK yang meluas ini menjadi peringatan serius akan tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia, dengan potensi ribuan buruh lainnya menghadapi nasib serupa jika kondisi tak segera membaik. Pemerintah dan pelaku industri dituntut untuk segera mencari solusi komprehensif guna menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan pekerja.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar