GEGER! Insentif Mobil Listrik di Ujung Tanduk, Harga Bakal Melambung Tinggi? Ekonom Peringatkan Dampak Krusial pada Dompet Konsumen dan Stabilitas Fiskal Negara!

GEGER! Insentif Mobil Listrik di Ujung Tanduk, Harga Bakal Melambung Tinggi? Ekonom Peringatkan Dampak Krusial pada Dompet Konsumen dan Stabilitas Fiskal Negara!

55 NEWS – Wacana pencabutan insentif kendaraan listrik tengah menjadi sorotan tajam di tengah gejolak ekonomi global dan fluktuasi harga minyak mentah yang tak menentu. Kebijakan ini, jika diterapkan tanpa kajian mendalam, dikhawatirkan dapat memberikan dampak signifikan terhadap industri otomotif nasional yang baru berkembang, serta berpotensi memperberat beban impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia. Menurut Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, pasar mobil listrik di Tanah Air masih berada dalam fase pertumbuhan awal yang membutuhkan dukungan strategis.

COLLABMEDIANET

Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa sektor kendaraan listrik di Indonesia belum mencapai kematangan. "Ini masih masa pertumbuhan," ujarnya, seperti dikutip dari 55tv.co.id. Ia menjelaskan, pada fase ini, para pelaku industri masih berupaya mengidentifikasi segmen pasar yang optimal, menentukan merek dan model yang paling sesuai, serta menetapkan strategi harga yang kompetitif. Kondisi ini sangat berbeda dengan industri otomotif konvensional berbasis bahan bakar fosil, seperti Toyota atau Mitsubishi, yang telah memiliki pengalaman puluhan tahun dalam merancang strategi penjualan adaptif di tengah berbagai tekanan ekonomi dan daya beli masyarakat.

GEGER! Insentif Mobil Listrik di Ujung Tanduk, Harga Bakal Melambung Tinggi? Ekonom Peringatkan Dampak Krusial pada Dompet Konsumen dan Stabilitas Fiskal Negara!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Jika insentif fiskal bagi kendaraan listrik ditarik dan perlakuan pajaknya disamakan dengan kendaraan berbahan bakar minyak, Ibrahim memprediksi adanya lonjakan harga yang signifikan. "Pada saat insentif dan subsidi dihilangkan, kemudian pajak mobil listrik disetarakan dengan pajak mobil konvensional, kemungkinan besar harganya akan melambung tinggi, sehingga minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik akan menurun drastis," jelasnya. Skenario ini, menurutnya, berisiko membuat pasar mobil listrik ditinggalkan oleh konsumen, menghambat upaya transisi energi, dan pada akhirnya, menggagalkan target pemerintah dalam mengurangi emisi karbon.

Implikasi dari kebijakan ini tidak hanya terbatas pada industri otomotif, tetapi juga menyentuh aspek makroekonomi. Indonesia, yang masih sangat bergantung pada impor BBM, berpotensi menghadapi tekanan lebih besar pada neraca pembayaran dan stabilitas fiskal jika transisi ke energi bersih terhambat. Oleh karena itu, Ibrahim menekankan pentingnya kajian komprehensif dan kehati-hatian dalam merumuskan kebijakan fiskal terkait insentif kendaraan listrik, agar tujuan mengurangi emisi dan ketergantungan BBM dapat tercapai tanpa mengorbankan pertumbuhan industri dan daya beli masyarakat. Keputusan strategis ini akan menentukan arah masa depan mobilitas hijau di Indonesia.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar