55 NEWS – Pekan pertama bulan suci Ramadhan 2026 diwarnai gejolak harga bahan pangan pokok di pasar tradisional Ibu Kota. Lonjakan signifikan terjadi pada sejumlah komoditas strategis, memicu kekhawatiran akan daya beli masyarakat dan menekan margin keuntungan pedagang. Cabai rawit merah menjadi primadona kenaikan, menembus angka fantastis Rp120.000 per kilogram, sementara komoditas lain seperti bawang merah dan telur ayam juga tak luput dari tren inflasi yang mengkhawatirkan. Situasi ini membuat pedagang menjerit karena omzet mereka anjlok drastis.

Related Post
Sahid, seorang pedagang sayur di Pasar Tradisional Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, mengungkapkan keprihatinannya. Ia menyaksikan langsung bagaimana harga cabai rawit merah melonjak tajam dari Rp80.000 menjadi Rp120.000 per kilogram. "Tidak hanya cabai rawit, cabai keriting merah juga naik signifikan dari Rp40.000 menjadi Rp60.000. Begitu pula bawang merah, dari Rp40.000 kini mencapai Rp60.000 per kilogram," jelas Sahid kepada 55tv.co.id pada Selasa (24/2/2026), menggambarkan tekanan harga yang masif.

Menurut Sahid, tren kenaikan ini bukan fenomena baru di awal Ramadhan, melainkan kelanjutan dari lonjakan yang sudah terasa sejak perayaan Tahun Baru Imlek 2026. Ia mengindikasikan bahwa akar masalahnya terletak pada terbatasnya pasokan dari tingkat distributor. "Barangnya kosong, stoknya memang terbatas. Ini sudah terasa sejak awal-awal puasa minggu ini," tambahnya, menggambarkan situasi kelangkaan yang memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.
Gejolak harga juga merambah sektor protein hewani. Deddy, pedagang telur di lokasi yang sama, melaporkan kenaikan harga telur ayam negeri sebesar Rp4.000, dari Rp28.000 menjadi Rp32.000 per kilogram. Jenis telur lain seperti telur ayam kampung, telur bebek, dan telur omega juga mengalami kenaikan rata-rata Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram.
Deddy mengamini bahwa kenaikan harga telur ini juga telah terjadi sejak periode Imlek 2026. "Ya, karena kemarin kan sempat Imlek, terus sekarang puasa. Permintaan meningkat drastis, sementara pasokan tidak seimbang," ujarnya, menyoroti faktor permintaan musiman yang turut mendongkrak harga komoditas penting ini.
Situasi ini menciptakan dilema serius bagi konsumen yang harus menghadapi biaya hidup lebih tinggi di bulan Ramadhan, sekaligus menekan omzet pedagang yang kesulitan menjual barang dengan harga tinggi di tengah daya beli masyarakat yang melemah. Keterbatasan pasokan dan lonjakan permintaan musiman menjadi kombinasi pemicu inflasi pangan yang perlu diwaspadai, berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga di Ibu Kota dan memerlukan intervensi kebijakan yang strategis.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar