55 NEWS – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengeluarkan instruksi tegas yang menggarisbawahi urgensi luar biasa dalam upaya penguatan ketahanan pangan nasional. Dalam sebuah rapat koordinasi penting, Amran menuntut penyelesaian program cetak sawah rakyat (CSR) seluas 101.503 hektare dalam kurun waktu satu bulan ke depan. Ini bukan sekadar target operasional, melainkan sebuah mandat strategis untuk mengamankan kedaulatan pangan di tengah gejolak iklim global yang semakin tidak menentu.

Related Post
Perintah ini disampaikan Amran dalam Rapat Koordinasi Pelaksana Swakelola Cetak Sawah yang berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian pada Rabu (25/2/2026). Ia secara eksplisit meminta seluruh jajaran Kementan, termasuk keterlibatan aktif Tentara Nasional Indonesia (TNI), untuk bergerak cepat dan totalitas dalam merealisasikan target ambisius ini. "Waktunya tinggal satu bulan. Target kontrak cetak sawah 101 ribu hektare harus diselesaikan. Saya minta seluruh jajaran, termasuk TNI, bergerak cepat dan bekerja total. Ini penentu," tegas Amran, seperti dikutip dari 55tv.co.id pada Kamis (26/2/2026).

Percepatan ini bukan tanpa alasan kuat dari perspektif ekonomi dan ketahanan negara. Amran menyoroti kondisi iklim dunia yang semakin ekstrem, termasuk potensi ancaman El Nino yang dapat memicu krisis pangan global. Pengalaman El Nino 2023-2024, di mana sejumlah negara membatasi bahkan menghentikan ekspor beras, menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. "Kondisi iklim ekstrem bukan lagi pilihan, ini kewajiban kita untuk bersiap. Kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Karena itu TNI, pemerintah daerah, dan seluruh jajaran harus turun tangan. Ini perintah strategis untuk menjaga kedaulatan pangan," jelasnya.
Indonesia, dengan jumlah penduduk yang besar, tidak boleh bergantung pada impor yang rentan terhadap fluktuasi harga dan ketersediaan di pasar global. Oleh karena itu, perluasan areal tanam melalui cetak sawah baru menjadi fondasi krusial untuk menggenjot produksi pangan domestik, menjaga stabilitas pasokan, dan pada akhirnya, menopang stabilitas ekonomi nasional.
Program percepatan ini difokuskan pada sejumlah provinsi yang memiliki potensi besar untuk pengembangan lahan pertanian, antara lain Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Papua Selatan (Merauke), Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Papua Barat Daya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Jambi, Bengkulu, Kalimantan Barat, Riau, dan Kalimantan Utara. Keterlibatan TNI dalam program ini menegaskan kolaborasi lintas sektor sebagai respons komprehensif terhadap tantangan ketahanan pangan yang bersifat multidimensional.
Mentan Amran juga tidak lupa mengapresiasi keberhasilan percepatan swasembada pangan yang sebelumnya berhasil dicapai dari target empat tahun menjadi hanya satu tahun. Capaian impresif ini merupakan buah sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta dukungan penuh dari para petani dan penyuluh pertanian lapangan (PPL). Dengan target ambisius ini, Kementerian Pertanian bertekad memastikan bahwa Indonesia memiliki cadangan pangan yang kuat dan tidak goyah di hadapan ancaman krisis global, sekaligus memperkokoh posisi sebagai negara yang berdaulat secara pangan.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar