Investasi Fantastis Rp1.677 Triliun Disiapkan untuk ‘Tembok Raksasa’ Pantura Jawa: Bagaimana Proyek Ini Akan Mengubah Peta Ekonomi Nasional dan Menyelamatkan Jutaan Aset Berharga?

Investasi Fantastis Rp1.677 Triliun Disiapkan untuk 'Tembok Raksasa' Pantura Jawa: Bagaimana Proyek Ini Akan Mengubah Peta Ekonomi Nasional dan Menyelamatkan Jutaan Aset Berharga?

55 NEWS – Proyek ambisius Giant Sea Wall (GSW) di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura) diproyeksikan menjadi salah satu mega proyek infrastruktur terbesar di Indonesia, dengan estimasi investasi fantastis mencapai USD 80-100 miliar, atau setara dengan sekitar Rp1.677 triliun. Inisiatif strategis ini, yang mendapat dorongan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk dipercepat, bertujuan melindungi jutaan jiwa dan aset nasional bernilai ratusan miliar dolar dari ancaman banjir rob serta penurunan permukaan tanah yang kian mengkhawatirkan. Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) kini tengah mematangkan master plan dan kajian komprehensif untuk memastikan keberlanjutan proyek vital ini.

COLLABMEDIANET

Dana Triliunan Rupiah dari Berbagai Sumber

Investasi Fantastis Rp1.677 Triliun Disiapkan untuk 'Tembok Raksasa' Pantura Jawa: Bagaimana Proyek Ini Akan Mengubah Peta Ekonomi Nasional dan Menyelamatkan Jutaan Aset Berharga?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kepala BOPPJ, Didit Herdiawan Ashaf, mengungkapkan bahwa total anggaran yang diproyeksikan untuk GSW berkisar antara USD 80 hingga 100 miliar. Skema pembiayaan dirancang untuk mengombinasikan dukungan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan partisipasi investor, baik dari dalam maupun luar negeri. "Secara keseluruhan sudah ada hitungannya sekitar 80 sampai 100 miliar (dolar AS). Kami sedang mendalaminya secara komprehensif, apa keuntungannya untuk Indonesia, agar tidak terlalu memberatkan pemerintah," jelas Didit seperti dikutip 55tv.co.id. Meskipun demikian, Didit memastikan bahwa hingga saat ini belum ada investasi asing maupun domestik yang secara resmi masuk. Pihaknya sedang fokus pada pemetaan wilayah pesisir Pantura yang akan menjadi prioritas awal pembangunan tanggul raksasa ini.

Visi Jangka Panjang untuk 300 Tahun ke Depan
Pembangunan GSW bukan sekadar solusi instan, melainkan sebuah visi jangka panjang yang ditargetkan mampu bertahan hingga 300 tahun. Proyek ini akan membentang sepanjang 535 kilometer, mencakup lima provinsi krusial di Pantura: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta meliputi lima kota dan 25 kabupaten. Di Jakarta, misalnya, GSW akan terbagi menjadi dua bagian utama, timur dan barat, yang akan dihubungkan oleh jembatan. Di antara keduanya, akan dibangun waduk retensi yang berpotensi menjadi sumber pasokan air baku vital bagi ibu kota. BOPPJ, di bawah supervisi Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, bekerja sama erat dengan para ahli dari universitas dan pakar lingkungan untuk mengkaji akar permasalahan abrasi dan degradasi pesisir.

Master Plan Matang dengan Sentuhan Internasional
Tahap penyusunan master plan proyek GSW sedang berjalan intensif. Dari hasil kajian bersama para ahli, proyek ini akan memasuki fase penulisan naskah akademik sebagai fondasi perencanaan, termasuk mematangkan eksekusi proyek secara simultan di seluruh kawasan Pantura. Keterlibatan ahli dari luar negeri juga menjadi bagian integral dalam perencanaan ini, mengingat kompleksitas dan skala proyek. Didit menekankan pentingnya kajian akademik yang matang karena berkorelasi langsung dengan keberhasilan proyek di masa depan. "Bukan hanya 17 sampai 20 juta jiwa penduduk yang harus kami lindungi, tetapi juga seluruh aset nasional di Pantura Jawa yang nilainya kurang lebih mencapai 368 miliar dolar," tegas Didit, menyoroti nilai strategis yang dipertaruhkan.

Solusi Multidimensi untuk Krisis Pesisir
BOPPJ menegaskan bahwa penyusunan master plan dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk segera merealisasikan proyek penanggulangan penurunan permukaan tanah dan banjir rob. GSW diposisikan sebagai solusi komprehensif untuk mengatasi berbagai isu pesisir, mulai dari banjir rob, degradasi lingkungan, penurunan muka tanah, hingga masalah aliran air akibat minimnya daerah penampung seperti embung atau bendungan. Proyek tanggul laut raksasa ini juga merujuk pada praktik terbaik dari sejumlah negara yang telah berhasil mengelola wilayah pesisir mereka. "Pelaksanaannya akan kami lakukan bersama para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri. Contohnya Belanda, yang sudah lebih dari 135 tahun membangun dam dan hidup di bawah permukaan laut sekitar 5 hingga 11 meter," pungkas Didit, menggarisbawahi komitmen terhadap standar global.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar