55 NEWS – Kabar gembira menyelimuti sektor pertanian Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2026 mencapai angka impresif 125,45, menandai kenaikan signifikan sebesar 1,50% dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan ini menjadi indikator positif daya beli dan kesejahteraan petani secara nasional, didorong oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani (It) yang jauh melampaui indeks harga yang dibayar petani (Ib).

Related Post
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan It mencapai 2,17%, sementara Ib hanya naik 0,65%. "Komoditas yang secara dominan mendongkrak indeks harga yang diterima petani nasional meliputi cabai rawit, kelapa sawit, karet, dan bawang merah," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id. Kenaikan harga komoditas-komoditas strategis ini memberikan angin segar bagi pendapatan petani di berbagai daerah.

Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat catatan minor pada subsektor tanaman pangan yang justru mengalami penurunan NTP terdalam, yakni sebesar 0,88%. Ateng merinci, "Penurunan ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani (It) pada subsektor tersebut turun 0,08%, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru meningkat 0,81%." Komoditas jagung disebut sebagai penyumbang utama penurunan It di subsektor tanaman pangan, mengindikasikan adanya tekanan harga pada komoditas pokok tersebut yang perlu diwaspadai.
Fluktuasi NTP ini menjadi cerminan dinamisnya kondisi ekonomi di tingkat petani. Kenaikan NTP secara umum menunjukkan peningkatan kemampuan petani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan. Namun, perlambatan di subsektor tanaman pangan, khususnya jagung, menggarisbawahi perlunya perhatian lebih terhadap stabilitas harga komoditas pangan pokok untuk menjaga keseimbangan pendapatan petani dan ketahanan pangan nasional.
Editor: Akbar soaks







Tinggalkan komentar