55 NEWS – Stabilitas pasokan energi nasional kembali menjadi sorotan di tengah memanasnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Teluk Persia. Selat Hormuz, sebuah jalur maritim yang sangat strategis, memegang peran krusial dalam rantai pasok minyak dunia, termasuk bagi Indonesia. Pertanyaan besar yang mengemuka adalah seberapa besar ketergantungan Indonesia pada jalur vital ini dan bagaimana mitigasi risikonya di tengah potensi gejolak.

Related Post
Selat Hormuz bukan sekadar lintasan air biasa. Ia adalah urat nadi perdagangan minyak global, di mana sekitar 20 juta barel minyak mentah, atau setara dengan 20% dari total konsumsi dunia, melintas setiap harinya. Potensi penutupan atau pembatasan akses akibat konflik bersenjata, seperti yang pernah terjadi antara AS dan Iran, dapat memicu krisis energi global dan tentu saja berdampak serius pada keamanan energi nasional Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah bersama pihak terkait terus memperkuat koordinasi demi memastikan kelancaran dan keamanan pelintasan kapal-kapal Indonesia di kawasan tersebut.

Merespons kekhawatiran ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pernah mengungkapkan bahwa sekitar 20 hingga 25 persen dari total impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah, yang secara geografis harus melewati Selat Hormuz. "Total impor kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen," jelas Bahlil dalam sebuah kesempatan. Namun, Bahlil juga menekankan strategi diversifikasi sumber pasokan. "Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil," imbuhnya, menunjukkan upaya untuk mengurangi risiko ketergantungan tunggal.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia tidak mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dari wilayah Timur Tengah melalui Selat Hormuz. Untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG), ketergantungan masih cukup signifikan, dengan sekitar 30 persen pasokan impor berasal dari Saudi Aramco, yang juga kemungkinan besar melewati jalur tersebut, sementara sisanya dipasok dari Amerika Serikat. Total impor LPG Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai 7,8 juta ton.
Senada dengan pemerintah, PT Pertamina (Persero) melalui Vice President Corporate Communication, Muhammad Baron, mengonfirmasi bahwa sekitar 19 persen dari total impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan melintasi Selat Hormuz. Baron meyakinkan publik bahwa Pertamina telah menyiapkan langkah antisipatif. "Saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi. Jadi untuk ketahanan energi nasional Pertamina telah menyampaikan sistem tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional," ujarnya, seperti dikutip 55tv.co.id. Ini menunjukkan kesiapan BUMN energi tersebut dalam menghadapi potensi gangguan rantai pasok.
Data ini menggarisbawahi kompleksitas pengelolaan pasokan energi di tengah dinamika geopolitik global. Meskipun Indonesia memiliki porsi impor minyak mentah yang signifikan melalui Selat Hormuz, strategi diversifikasi sumber dan kesiapan sistem distribusi darurat menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi nasional dari guncangan eksternal yang tak terduga.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar