55 NEWS – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tengah menggenjot percepatan pengembangan jaringan perkeretaapian di luar Pulau Jawa. Langkah strategis ini digadang-gadang sebagai kunci untuk menekan biaya logistik nasional, mereduksi ketimpangan pembangunan antarwilayah, sekaligus memperkuat konektivitas bangsa secara menyeluruh.

Related Post
Inisiatif vital ini diungkapkan AHY saat memimpin rapat koordinasi lanjutan terkait pengembangan jaringan kereta api di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi (SKS) yang berlangsung di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, pada Selasa (22/4/2026). AHY menegaskan bahwa proyek pengembangan jaringan kereta api lintas pulau ini merupakan amanat langsung dari Presiden Prabowo Subianto, yang menjadi bagian integral dari Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) di sektor infrastruktur dan konektivitas.

"Ini adalah visi besar Bapak Presiden. Kami bertekad memastikan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi tidak tertinggal jauh dalam laju pembangunan. Dengan membangun jaringan kereta api yang terintegrasi, kita dapat memangkas biaya logistik secara signifikan dan mendongkrak daya saing ekonomi antarwilayah," ujar AHY, sebagaimana dikutip dari 55tv.co.id.
AHY menambahkan bahwa hingga kini, Indonesia masih menghadapi disparitas yang cukup mencolok dalam pengembangan transportasi berbasis rel. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis yang terencana matang dan kolaborasi erat antar kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. "Kita harus jujur melihat realitas hari ini. Jaringan kereta api kita masih sangat terbatas dibandingkan dengan negara-negara lain. Ini bukan untuk membuat kita pesimis, melainkan justru menjadi pemicu untuk bekerja lebih keras dan lebih terarah," tegasnya.
Lebih lanjut, AHY menyoroti kontribusi kereta api yang masih minim terhadap mobilitas nasional. Ia mengungkapkan bahwa angkutan penumpang kereta api saat ini baru mencapai sekitar 4 persen, sementara angkutan logistik hanya berkisar 1 persen. Padahal, moda transportasi ini memiliki keunggulan kompetitif yang sangat besar, terutama dari sisi efisiensi operasional dan rendahnya emisi. "Kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca sangat rendah, kurang dari 1 persen. Potensi ini harus kita dorong sebagai bagian dari komitmen Indonesia menuju target net zero emission," pungkas AHY, seperti diberitakan oleh 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar