Terkuak! Rupiah Anjlok ke Rp17.900 per Dolar AS, Titik Terendah Sepanjang Sejarah: Analis Ungkap Pemicu Global yang Mengguncang Ekonomi Domestik!

55 NEWS – Pasar keuangan Indonesia kembali diwarnai gejolak signifikan setelah nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terperosok tajam, menembus level psikologis Rp17.900 per dolar AS. Angka ini menandai titik terendah dalam sejarah mata uang Garuda. Menanggapi fenomena ini, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas terkemuka, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan drastis ini merupakan akumulasi dari tekanan faktor eksternal dan internal yang kompleks.

COLLABMEDIANET

Ibrahim Assuaibi menjelaskan, salah satu pemicu utama dari sisi eksternal adalah lonjakan harga minyak mentah global yang dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut telah memicu kekhawatiran pasokan, mendorong harga komoditas energi melonjak. Kondisi ini secara langsung berdampak pada kebutuhan dolar AS yang lebih tinggi bagi Pemerintah Indonesia untuk membiayai impor minyak.

Terkuak! Rupiah Anjlok ke Rp17.900 per Dolar AS, Titik Terendah Sepanjang Sejarah: Analis Ungkap Pemicu Global yang Mengguncang Ekonomi Domestik!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Kenaikan harga minyak mentah secara signifikan meningkatkan permintaan dolar, terutama untuk membiayai impor minyak kita yang memang sangat besar," terang Ibrahim dalam pernyataan resminya yang diterima 55tv.co.id pada Rabu (3/6/2026).

Lebih lanjut, Ibrahim merinci bahwa pada perdagangan hari ini, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat menembus USD94,77 per barel, melonjak 1,08 persen dari penutupan sebelumnya. Senada, harga Brent Crude Oil juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai USD96,72 per barel. Implikasi dari kenaikan harga energi ini tidak hanya terasa di pasar komoditas, tetapi juga merembet ke ekonomi global, khususnya Amerika Serikat.

"Kenaikan harga-harga konsumsi, termasuk bahan bakar minyak (BBM) atau gasoline di Amerika, terus berlanjut. Situasi ini memberikan tekanan pada Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk menaikkan suku bunga acuan mereka," imbuh Ibrahim, menggarisbawahi potensi dampak lanjutan terhadap aliran modal global.

Meskipun fokus utama saat ini tertuju pada dinamika eksternal, Ibrahim juga tidak menampik adanya faktor-faktor internal yang turut berkontribusi pada kerentanan Rupiah. Namun, tekanan global yang masif saat ini menjadi dominan dalam mendorong pelemahan historis ini. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para pemangku kebijakan dan pelaku pasar, mengingat dampak lanjutan dari pelemahan Rupiah terhadap inflasi dan daya beli masyarakat. Tantangan ke depan diprediksi akan semakin kompleks, terutama jika ketegangan geopolitik dan harga minyak dunia terus bergejolak.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar