55 NEWS – JAKARTA – Di tengah gejolak harga minyak global, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada dinamika penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa kenaikan ini secara spesifik hanya berlaku untuk jenis BBM nonsubsidi, sementara harga Pertalite dan Biosolar yang banyak digunakan masyarakat dipastikan tetap stabil.

Related Post
Fenomena ini, yang kerap memicu kebingungan publik, menjadi sorotan utama. Setiap kali ada penyesuaian harga BBM nonsubsidi, persepsi yang muncul di tengah masyarakat seringkali adalah bahwa pemerintah menaikkan harga seluruh jenis BBM. Padahal, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dijual dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah dan tidak mengalami perubahan.

Pengamat Energi sekaligus Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, pada Jumat (12/6/2026), menegaskan urgensi transparansi komunikasi pemerintah. "Pemerintah harus mampu membedakan secara tegas dalam komunikasi publik antara BBM subsidi dan BBM nonsubsidi. Jangan sampai masyarakat memperoleh informasi yang setengah-setengah sehingga muncul anggapan bahwa negara kembali membebani rakyat melalui kenaikan harga BBM," ujarnya kepada 55tv.co.id.
Sofyano menambahkan, "Yang mengalami penyesuaian adalah BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah."
Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM dengan nilai oktan (RON) 92, seperti Pertamax dari Pertamina atau produk sejenis dari BP-AKR dan Vivo Energy Indonesia, merupakan konsekuensi logis dari mekanisme pasar. Berbeda dengan BBM bersubsidi yang memperoleh kompensasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), harga produk nonsubsidi ini murni mengikuti fluktuasi biaya pengadaan dan distribusi global.
Meskipun demikian, Sofyano mengkritik lemahnya strategi komunikasi yang diterapkan pemerintah maupun badan usaha penyedia BBM. Menurutnya, pengumuman kenaikan harga seringkali hanya disampaikan melalui kanal resmi perusahaan, tanpa diikuti edukasi yang memadai mengenai alasan di balik kenaikan, struktur harga, serta perbedaan status subsidi pada masing-masing produk. Ini menyebabkan informasi krusial gagal tersampaikan secara komprehensif kepada masyarakat luas.
Oleh karena itu, pemerintah dan badan usaha diharapkan dapat meningkatkan upaya edukasi publik agar masyarakat dapat memahami perbedaan fundamental antara BBM bersubsidi yang harganya stabil dan BBM nonsubsidi yang fluktuatif mengikuti dinamika pasar global.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar