55 NEWS – Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya seri Pertamax, kembali menjadi sorotan publik. Setelah mengalami kenaikan signifikan pada 10 Juni 2026, kini muncul sinyal kuat dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa harga BBM jenis ini berpotensi kembali turun, seiring dengan pergerakan harga minyak mentah global. Kondisi ini tentu memicu rasa penasaran di kalangan konsumen dan pelaku ekonomi, mengingat sensitivitas harga energi terhadap daya beli masyarakat.

Related Post
PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa penetapan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Green, pada periode 10 Juni 2026 lalu, sepenuhnya mengacu pada mekanisme harga pasar. Kebijakan ini selaras dengan formula yang telah ditetapkan oleh pemerintah, di mana harga jual produk nonsubsidi bersifat dinamis mengikuti perkembangan parameter ekonomi global. Tercatat, harga Pertamax mengalami kenaikan sebesar Rp3.950, dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green juga melonjak Rp4.100, dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini merefleksikan penyesuaian terhadap biaya pengadaan energi di pasar internasional.

Namun, di tengah kenaikan tersebut, Kementerian ESDM memberikan angin segar. Mereka mengindikasikan bahwa harga BBM nonsubsidi akan kembali menyesuaikan ke bawah jika tren harga minyak dunia menunjukkan penurunan. Sinyal ini bukan tanpa dasar. Mengutip laporan Reuters pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, harga minyak mentah Brent tercatat turun 54 sen atau 0,68 persen, bertengger di USD78,31 per barel. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah 46 sen atau 0,6 persen, menjadi USD76,14 per barel. Pergerakan harga komoditas global ini menjadi indikator penting bagi penentuan harga BBM di dalam negeri.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa seri Pertamax merupakan kategori BBM nonsubsidi yang harga jualnya memang responsif terhadap perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi. "Penetapan dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini sejalan dengan informasi yang telah disampaikan pemerintah, bahwa Pertamax series adalah BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan parameter pasar sesuai formula yang berlaku," ujar Roberth di Jakarta, seperti dikutip dari 55tv.co.id pada Sabtu (20/6/2026).
Berbeda dengan BBM nonsubsidi, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar, ditegaskan tidak mengalami perubahan karena penetapannya berada di bawah kewenangan pemerintah. Roberth menambahkan, evaluasi harga BBM nonsubsidi secara normal dilakukan secara berkala. "Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dievaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah," pungkasnya, memberikan gambaran mengenai strategi penetapan harga yang transparan dan adaptif terhadap dinamika pasar global, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar