Waspada! Jutaan Dolar Aset Kripto Amblas Akibat Modus Baru: Bukan Sistem, Tapi Manusia Jadi Target Utama Penipu Canggih Berbantuan AI!

Waspada! Jutaan Dolar Aset Kripto Amblas Akibat Modus Baru: Bukan Sistem, Tapi Manusia Jadi Target Utama Penipu Canggih Berbantuan AI!

55 NEWS – Jakarta – Euforia investasi aset kripto yang kian membara di tengah masyarakat, sayangnya, turut membuka celah bagi para pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya. Modus penipuan kini semakin canggih, mengancam keamanan finansial para investor dengan taktik yang lebih licik dan sulit dideteksi.

COLLABMEDIANET

Sebuah laporan mengejutkan dari Hacken, firma keamanan blockchain terkemuka, mengungkap fakta bahwa pada kuartal pertama tahun 2026, lebih dari 63% total kerugian akibat insiden keamanan di ekosistem Web3 berasal dari serangan phishing dan rekayasa sosial (social engineering). Angka ini jauh melampaui kerugian akibat penipuan dompet digital, eksploitasi smart contract, atau serangan teknis lainnya. Secara total, kerugian insiden keamanan Web3 dari Januari hingga Maret 2026 mencapai sekitar USD482 juta (setara kurang lebih Rp7,8 triliun dengan kurs saat ini), di mana sekitar USD306 juta (sekitar Rp4,9 triliun) di antaranya merupakan buah dari aksi phishing dan social engineering.

Waspada! Jutaan Dolar Aset Kripto Amblas Akibat Modus Baru: Bukan Sistem, Tapi Manusia Jadi Target Utama Penipu Canggih Berbantuan AI!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Fenomena ini mengindikasikan pergeseran strategi para penjahat siber. Mereka kini lebih fokus mengeksploitasi kerentanan manusia, ketimbang bersusah payah menembus sistem teknologi yang semakin kuat dan berlapis.

Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax, membenarkan tren mengkhawatirkan ini. Ia mengungkapkan bahwa perubahan pola serangan tersebut sangat kentara dengan maraknya modus penipuan yang mengatasnamakan layanan pelanggan (Customer Support) Indodax. Menurut Aloysia, para penipu lihai memanfaatkan kepercayaan pengguna untuk memancing informasi krusial seperti kata sandi, PIN, kode OTP, hingga data sensitif lainnya yang dapat membuka akses ke akun korban.

Dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis (25/6/2026), Aloysia menegaskan, "Pelaku kejahatan siber saat ini tidak lagi sekadar berburu celah pada sistem teknologi, namun juga secara aktif mencari titik lemah pada faktor manusia. Modus CS palsu adalah wujud nyata dari rekayasa sosial yang mengeksploitasi kepanikan dan kepercayaan pengguna, mendorong mereka untuk tanpa sadar menyerahkan akses penuh ke akun mereka."

Lebih lanjut, Aloysia menyoroti peran Artificial Intelligence (AI) yang semakin memperparah situasi. Kemajuan AI memungkinkan para penipu menciptakan email, pesan instan, bahkan interaksi komunikasi yang terlihat sangat profesional dan meyakinkan. Dengan teknologi AI generatif, batas antara komunikasi resmi dan upaya penipuan menjadi semakin kabur, menyulitkan korban untuk membedakannya dan meningkatkan risiko kerugian finansial yang signifikan. Para investor kripto diimbau untuk selalu waspada dan memverifikasi setiap komunikasi yang mengatasnamakan platform investasi mereka.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar