55 NEWS – Jakarta digemparkan oleh pernyataan tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang secara terang-terangan menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap penilaian dari agensi pemeringkat global terkemuka seperti S&P Global Ratings, Moody’s, dan Fitch Ratings. Pernyataan ini muncul seiring dengan langkah strategis pemerintah Indonesia untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan negara melalui penerbitan instrumen Panda Bond di pasar modal Tiongkok.

Related Post
Purbaya menjelaskan, ekspansi ke arena finansial Beijing dan Shanghai ini secara inheren akan mengadopsi kerangka penilaian yang ditetapkan oleh lembaga pemeringkat domestik Tiongkok. Ini adalah bagian integral dari strategi yang lebih luas.

Langkah diversifikasi ini bukan sekadar perluasan biasa, melainkan sebuah manuver taktis yang bertujuan fundamental: memangkas ketergantungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap pasar obligasi global konvensional. Pasar ini, seperti diketahui, didominasi oleh para investor yang berorientasi pada instrumen berbasis dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam sebuah sesi media briefing pada Jumat (26/6/2026), Purbaya menegaskan sikapnya. "Jika pun ada pemeringkatan yang keluar dari pihak sana, saya bisa saja tidak peduli. Mengapa saya harus kembali menerbitkan obligasi dolar untuk sementara waktu?" ujarnya retoris. Ketika didesak apakah ‘pihak sana’ yang dimaksud merujuk pada S&P Global Ratings, Purbaya hanya menjawab singkat namun penuh makna, "Ya gitulah."
Purbaya tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan kritiknya terhadap metodologi penilaian lembaga pemeringkat internasional yang dianggapnya terlalu kaku dan cenderung abai terhadap realitas kemajuan ekonomi yang terjadi di Indonesia.
"’Dugaan saya, ini bukan hanya S&P. Mereka sudah memiliki pola pikir tertentu yang menghalangi mereka untuk melihat realitas di lapangan. Saya tidak bisa mengubah itu,’ keluh Purbaya, menyiratkan frustrasi."
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sendiri berpendapat bahwa indikator fundamental ekonomi yang solid, rasio kepatuhan utang yang terjaga, serta postur anggaran yang disiplin seharusnya menjadi tolok ukur evaluasi yang lebih objektif dan utama.
"’Mereka memang melihat apakah kita mampu membayar utang, bagaimana kondisi fiskal kita. Tapi ketika fiskal sudah bagus, mereka masih saja berdalih, ‘Ya, tapi kan ada ketidakpastian di pasar.’ Tentu saya juga menyadari itu. Seharusnya yang dilihat adalah kondisi riilnya. Itu yang masih sulit saya pahami,’ Purbaya melanjutkan dengan nada heran."
Berangkat dari perbedaan persepsi dan hambatan itulah, pemerintah akhirnya memutuskan untuk beralih dan merangkul ekosistem pasar keuangan Tiongkok. Pasar ini dinilai menawarkan parameter pendekatan risiko yang lebih adil dan adaptif, jauh dari bias yang dirasakan.
Karakteristik unik investor di Negeri Tirai Bambu tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu bergantung pada predikat yang disematkan oleh S&P atau Moody’s. Sebaliknya, mereka lebih menaruh kepercayaan pada sertifikasi peringkat yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat domestik Tiongkok sebelum memutuskan untuk mengoleksi aset Panda Bond.
"’Investor di Tiongkok tidak terlalu terpengaruh oleh rating dari S&P, Moody’s, dan lembaga sejenis lainnya. Mereka akan mengacu pada pemeringkatan yang dilakukan oleh agensi Tiongkok. Panda Bond ini diperingkat oleh lembaga pemeringkat dari Tiongkok,’ pungkas Purbaya dengan nada meyakinkan."
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar