55tv.co.id – Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kini menjadi momok menakutkan bagi perekonomian nasional. Pelemahan mata uang Garuda ini tak hanya membuat harga kebutuhan pokok melambung tinggi, namun juga mengancam daya beli masyarakat yang semakin terhimpit. Situasi ini menciptakan tekanan beruntun pada sektor riil, memperparah beban hidup jutaan keluarga di Indonesia.

Related Post
Pada penutupan perdagangan Jumat 24 Juli 2026, rupiah terpantau anjlok 27 poin, menyentuh level Rp17.963 per dolar AS. Angka ini menandai kemerosotan 0,15% dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp17.936. Kemerosotan ini sontak memicu kekhawatiran serius, mengingat dampaknya yang multidimensional. Selain menaikkan harga barang impor di tingkat konsumen, depresiasi rupiah juga memberatkan biaya bahan baku bagi industri pengolahan serta melambungkan beban pembayaran utang luar negeri.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics CORE Indonesia M Faisal menyoroti dampak langsung pelemahan rupiah terhadap daya beli masyarakat. Menurutnya lonjakan harga barang kebutuhan pokok yang sangat bergantung pada impor menjadi pemicu utama inflasi di tingkat konsumen. Indonesia memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan pangan dari luar negeri, seperti gandum yang hampir 100% diimpor kedelai 90% dan bawang putih yang juga hampir seluruhnya berasal dari impor. Tak hanya itu bahan baku industri tekstil seperti kapas juga masih didatangkan dari luar. "Karena rupiah lebih lemah maka artinya barang-barang impor yang masuk dan dikonsumsi masyarakat menjadi lebih mahal otomatis," ujar Faisal.
Lebih lanjut Faisal menjelaskan bahwa tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga menghantam keras struktur biaya operasional produsen manufaktur dalam negeri. Kenaikan harga bahan baku impor secara signifikan membengkak biaya produksi di berbagai sektor industri utama. Industri farmasi dan obat-obatan disebut sebagai sektor yang paling tinggi persentase kandungan impornya diikuti oleh industri tekstil yang masih mengimpor kapas serta industri makanan dan minuman. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga produk akhir, yang pada akhirnya kembali membebani masyarakat.










Tinggalkan komentar