55tv.co.id – Nilai tukar Rupiah kembali terperosok, mendekati level psikologis Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat pekan ini. Kombinasi panasnya tensi geopolitik global dan bayang-bayang perlambatan ekonomi domestik menjadi pemicu utama anjloknya mata uang Garuda dalam beberapa hari terakhir.

Related Post
Data pasar menunjukkan, Rupiah di pasar spot ditutup pada angka Rp17.963 per dolar AS pada hari Jumat, mencatat pelemahan 0,15 persen dalam sehari. Jika dilihat secara mingguan, Rupiah tergelincir 0,23 persen dari posisi penutupan pekan sebelumnya yang berada di Rp17.921 per dolar AS pada 17 Juli 2026. Situasi serupa juga tergambar pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, yang merosot 0,32 persen secara harian menjadi Rp17.973 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs Jisdor terpantau melemah 0,16 persen dari Rp17.944 per dolar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah bersumber dari faktor eksternal dan internal. Di kancah internasional, kekhawatiran pasar memuncak akibat kembali memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Serangan yang dilancarkan pasukan AS terhadap sejumlah fasilitas militer Iran segera dibalas dengan gempuran ke posisi militer AS di Bahrain, Kuwait, hingga Yordania. Eskalasi ini sontak memicu kekhawatiran serius terhadap kelancaran jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Potensi gangguan pasokan minyak dunia, lonjakan biaya pengiriman, serta kenaikan premi asuransi menjadi ancaman nyata yang membayangi.
Menurut Ibrahim, gejolak yang kembali memanas ini merupakan episode permusuhan terburuk antara AS dan Iran sejak gencatan senjata yang disepakati April lalu. Pembicaraan damai antara kedua belah pihak kini tampaknya telah menemui jalan buntu, menambah ketidakpastian di pasar global dan memberikan tekanan lebih lanjut pada mata uang negara berkembang seperti Rupiah.










Tinggalkan komentar