55tv.co.id – Bencana asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali melumpuhkan sektor penerbangan nasional. Sejak pertengahan Agustus 2026, operasional maskapai di berbagai wilayah seperti Sumatera Kalimantan hingga Papua terganggu parah. Kondisi ini memaksa banyak jadwal penerbangan ditunda dialihkan bahkan dibatalkan demi keselamatan penumpang.

Related Post
Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengungkapkan dampak karhutla ini sangat nyata bagi industri penerbangan. Visibilitas yang anjlok di bawah batas aman untuk lepas landas maupun mendarat menjadi pemicu utama. Di Bandara Singkawang misalnya rute Jakarta-Singkawang pulang-pergi yang dilayani TransNusa dan Super Air Jet terpaksa dibatalkan pada 16 18 dan 19 Agustus. Sementara itu Bandara Supadio Pontianak mencatat setidaknya 21 penerbangan mengalami penundaan dan satu dialihkan ke Batam.

Pembatalan penerbangan di Singkawang pada 16 Agustus saja telah merugikan ratusan penumpang. Tercatat 174 penumpang berangkat dan 153 penumpang datang untuk TransNusa serta 180 penumpang berangkat dan 87 penumpang datang untuk Super Air Jet harus menunda perjalanan mereka. Maskapai memberikan opsi pengembalian dana penuh atau penjadwalan ulang gratis dalam kurun waktu tujuh hari.
Tidak hanya di Kalimantan Barat selimut asap tebal juga menghambat penerbangan NAM Air di Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Rute perintis Wings Air Timika-Nabire di Papua pun turut terdampak penundaan karena jarak pandang hanya mencapai 2,6 kilometer jauh di bawah batas minimum pilot 5 kilometer. Kualitas udara di Palangka Raya bahkan sempat menyentuh indeks berbahaya AQI 487 yang makin memperburuk kondisi penundaan di Pangkalan Bun dan Nabire. Rata-rata keterlambatan penerbangan berlangsung 1-2 jam dengan kondisi terparah terjadi antara pukul 06.00 hingga 08.00 WIB saat jarak pandang anjlok hingga sekitar 1.000 meter.








Tinggalkan komentar