Strategi Baru Selamatkan Industri Tekstil

Strategi Baru Selamatkan Industri Tekstil

55tv.co.id – Sektor manufaktur padat karya di Indonesia kini tengah berada dalam pusaran tantangan yang cukup berat. Menanggapi situasi tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) bersama Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) secara resmi mengambil langkah strategis untuk melakukan intervensi besar-besaran. Fokus utama dari gerakan ini adalah memperkuat ekosistem industri tekstil dan alas kaki nasional, mulai dari sektor hulu hingga ke hilir.

COLLABMEDIANET

Langkah kolaboratif ini diambil sebagai upaya nyata untuk mendongkrak kembali daya saing produk dalam negeri. Hal ini menjadi sangat mendesak mengingat industri manufaktur nasional saat ini sedang menghadapi tekanan hebat dari persaingan pasar global yang semakin tidak menentu. Pemerintah melalui Danantara dan BP BUMN berupaya merumuskan peta jalan pemulihan yang konkret agar produsen lokal tidak hanya sekadar bertahan, tetapi mampu bangkit melawan gempuran produk impor yang membanjiri pasar domestik.

Strategi Baru Selamatkan Industri Tekstil
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Berdasarkan data ekonomi terbaru, industri tekstil dan alas kaki sebenarnya masih menunjukkan tren pertumbuhan yang moderat. Pada tahun 2024, sektor tekstil mencatatkan nilai yang cukup signifikan, yakni mencapai Rp203,95 triliun. Sementara itu, industri alas kaki menyumbang angka sebesar Rp49,24 triliun. Secara makro, kontribusi industri tekstil terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berada di angka 0,97% hingga 0,99%. Meski angka ini menunjukkan peran yang penting, namun potensi pertumbuhan tersebut masih terhambat oleh berbagai kendala struktural.

Kepala BP BUMN yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa penguatan menyeluruh adalah kunci utama. Menurutnya, penguatan dari sisi hulu hingga hilir sangat krusial agar industri padat karya kita memiliki "taring" saat berhadapan dengan negara-negara kompetitor di kancah internasional. Tanpa penguatan struktur, industri nasional akan terus kesulitan menghadapi dinamika perdagangan global yang sangat kompetitif.

Dalam sebuah pertemuan strategis yang dilakukan baru-baru ini, para pelaku industri telah memaparkan realita pahit yang mereka hadapi di lapangan. Berbagai hambatan operasional menjadi sorotan utama, mulai dari melonjaknya beban biaya produksi yang mencekik margin keuntungan, hingga kendala pada sistem kerja yang belum optimal. Selain itu, inefisiensi dalam struktur pembiayaan harian juga menjadi beban tambahan yang menghambat kelancaran arus kas perusahaan.

Melalui keterlibatan Danantara dan BP BUMN, diharapkan ada solusi sistemik yang dapat memangkas inefisiensi tersebut. Pemerintah berkomitmen untuk tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, tetapi membangun fondasi industri yang lebih tangguh agar mampu menghadapi tantangan ekspor dan tekanan pasar global di masa depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar