55tv.co.id – Pemerintah Indonesia tengah melakukan langkah besar dalam melakukan transformasi digital pada sistem perlindungan sosial nasional. Melalui program Perlinsos Digital, pemerintah menetapkan target ambisius untuk merangkul 48 juta keluarga agar terdaftar dalam sistem tersebut hingga penghujung tahun 2026 mendatang. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk memastikan penyaluran bantuan sosial (bansos) menjadi lebih tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.

Related Post
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pendataan biasa, melainkan sebuah upaya pemutakhiran data secara menyeluruh. Dengan sistem digital ini, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap bantuan yang diberikan benar-benar sampai ke tangan mereka yang membutuhkan, tanpa ada lagi kendala data ganda atau salah sasaran yang sering menjadi kendala di masa lalu.

"Target kita paling tidak di akhir tahun nanti sudah ada 48 juta keluarga yang sudah registrasi di Perlinsos Digital kita," ujar Gus Ipul dalam keterangannya pada Senin (26/10/2026).
Hingga saat ini, progres pendataan menunjukkan tren yang positif. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 13,2 juta keluarga telah berhasil masuk ke dalam sistem Perlinsos Digital. Menariknya, proses registrasi ini dilakukan melalui dua jalur, yakni secara mandiri oleh masyarakat yang bersangkutan maupun melalui pendampingan oleh para agen di lapangan.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif para agen yang bertugas membantu masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan akses teknologi. Hingga saat ini, jumlah Agen Perlinsos yang telah bergabung dan bergerak di tengah masyarakat telah mencapai angka 816.674 orang. Kehadiran para agen ini menjadi ujung tombak dalam memastikan seluruh lapisan masyarakat, hingga ke pelosok daerah, dapat terjangkau oleh sistem digital ini.
Gus Ipul memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras membantu masyarakat dalam proses registrasi. Menurutnya, integrasi teknologi dalam perlindungan sosial adalah kebutuhan mendesak di era modern ini. Salah satu fitur unggulan yang digunakan dalam Perlinsos Digital adalah penggunaan teknologi biometrik atau pengenalan wajah (face recognition).
Penggunaan teknologi biometrik ini bertujuan untuk melengkapi data berbasis nama dan alamat yang sudah ada sebelumnya. Dengan verifikasi wajah, risiko manipulasi data atau penggunaan identitas palsu dapat diminimalisir secara signifikan. Hal ini akan memperkuat validitas data penerima manfaat, sehingga pemerintah dapat memetakan profil ekonomi masyarakat dengan lebih akurat.
Melalui transformasi digital ini, pemerintah berharap sistem perlindungan sosial di Indonesia menjadi lebih inklusif. Masyarakat kini juga memiliki kesempatan lebih besar untuk mengajukan diri secara langsung sebagai calon penerima bantuan melalui sistem tersebut, sehingga proses birokrasi menjadi lebih singkat dan terbuka bagi siapa saja yang memenuhi kriteria.










Tinggalkan komentar