55tv.co.id – Kabar gembira menyelimuti sektor perdagangan Indonesia yang kembali mencatatkan performa gemilang. Pada Juli 2026, neraca perdagangan nasional berhasil membukukan surplus signifikan sebesar 120 juta dolar AS. Pencapaian ini menjadi angin segar dan sorotan utama setelah dua bulan sebelumnya, tepatnya Mei dan Juni 2026, catatan ekspor-impor Indonesia sempat terperosok ke zona defisit.

Related Post
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyambut data positif ini dengan penuh optimisme. Beliau meyakini bahwa tren menguntungkan ini akan terus berlanjut, mengingat sejarah panjang Indonesia dalam menjaga keseimbangan dagang. Bahkan, negara ini pernah menorehkan rekor surplus selama 72 bulan berturut-turut. "Sejak Januari hingga Juli, volume ekspor kita sudah tumbuh 4,43 persen. Harapan kami, performa surplus ini bisa dipertahankan secara berkelanjutan," ungkap Budi saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan di Jakarta.

Menurut Budi, salah satu faktor utama yang sempat menyeret neraca perdagangan ke jurang defisit pada periode Maret hingga April adalah gejolak harga minyak mentah global. Kala itu, harga komoditas energi tersebut melambung tinggi, menembus angka di atas 100 dolar AS per barel. Meskipun demikian, Budi menegaskan bahwa sektor non-migas Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang kuat dan konsisten membukukan kelebihan. "Memang defisit terjadi karena sektor migas, namun surplus non-migas kita tetap berjalan baik," jelasnya.
Pemerintah berharap harga minyak dunia dapat kembali stabil dan terkendali. Hal ini krusial mengingat besarnya permintaan energi domestik yang harus dipenuhi. Dengan harga minyak yang lebih terjaga, tekanan terhadap neraca perdagangan akibat impor migas diharapkan dapat berkurang, sehingga jalan menuju surplus berkelanjutan semakin terbuka lebar bagi perekonomian Indonesia.










Tinggalkan komentar